Geliat Metro

Ketua Komisi ll Dokter Harus Belajar Etika

Metro, www.lampungmediaonline.com  – Komisi II DPRD Metro menyesalkan adanya penolakan pasien bayi yang tengah dalam kondisi kritis di RSUD Ahmad Yani setempat.
“Kalau kejadian itu betul, ini parah. Apalagi kalau dokternya tidak periksa sama sekali, cuma karena alat enggak ada, terus suruh pasien pindah RS, itu kacau namanya,” tandas Tondi Nasution, Ketua Komisi II 20/3/2017.
Ia menegaskan, setiap profesi memiliki etika atau kode etik. Apalagi sebagai seorang dokter yang bertugas di RS pemerintah. Dan yang terpenting, masyarakat tidak akan ke RS, jika tidak mengalami sakit.
“Artinya apa, mereka minta ditangani. Ditangani itu bisa dengan penjelasan yang pakai etika, perawatan, dan lainnya. Bukan sekonyong-konyong bilang kamar penuh dan alat enggak ada. Habis itu suruh pindah RS,” bebernya.
Tondi menambahkan, RSUD Ahmad Yani yang bertipe A tidak mungkin tidak memiliki alat seperti inkubator.
“Dan apalagi kalau sampai ngaku enggak punya alat ke orang awam ya. Ini bahaya. Enggak punya etika orang itu,” tuntasnya
Diberitakn sebelumnya Diduga Bayi berusia satu bulan ditolak berobat di Rumah Sakit Umum Dearah (RSUD) Ahmad Yani Metro. Ironisnya, penolakan dikarenakan RS tipe A tersebut tidak memiliki alat dan kamar.
Medi Tawali, ayah Farel Hidayatullah menceritakan, ia membawa bayinya ke RSUD Ahmad Yani Metro karena mengalami panas dan sesak nafas, dengan kondisi yang sangat kritis. Dimana badan telah membiru.
“Saya bawa itu ke IGD kamis pagi. IGD ya. Artinya ini sudah gawat. Karena memang badannya sudah berubah warna. Biru pucat begitu. Saya kalut. Sampai sana ketemu dokternya. Diperiksa juga enggak,” bebernya, Minggu (19/3).
Medi mengaku, dokter IGD hanya mengatakan kamar pasien penuh tanpa mencarikan solusi untuk anaknya. Kemudian berlalu pergi. Dirinya menunggu sekitar 15 menit, dokter tidak juga kembali. Padahal, dirinya menggunakan jasa umum, bukan BPJS.
“Terus ada perawat. Dia cuma pegang kakinya pakai alat apa itu. Terus bilang, kita enggak punya inkubator dan kamar pasien penuh. Habis itu disuruh pindah ke rumah sakit lain,” keluhnya.
Tanpa pikir panjang, Medi langsung membawa anaknya ke RS Mardi Waluyo. Sesampainya di sana, putranya langsung mendapat perawatan eksra dengan diberi infus dan oksigen.
“Saya terus mikir. Kok sampai di RS yang tipe B, masuk IGD langsung ditangani. Enggak ada tanya-tanya lagi. Langsung dirawat. Setengah jam dapat perawatan kulit anak saya langsung merah lagi. Mulai normal lagi,” terangnya.
Ia mempertanyakan, kenapa RS yang merupakan milik pemerintah dan dibangun untuk masyarakat justru menerapkan pelayanan yang buruk. “Saya sangat kecewa betul. Ini bayi. IGD lagi. Saya akan laporkan ke DPRD,” tandasnya.
Sementara Direktur RSUD Ahmad Yani Endang Nurhayati mengaku, pihaknya bukan tidak memiliki alat inkubator. Namun, pada saat itu, semua kamar pasien penuh. Sehingga disarankan ke RS lain.
“Kalau penuh itu alat sering jadi masalah. Jadi kita bukan menolak. Tahun ini, rencananya kita malah nambah 12 alat inkubator. Dan salah satu dokter spesialis anak kita tahun ini berencana mengambil sub spesialis neonatus,” imbuhnya via telepon. (RY/Rud)
BACA JUGA:  TYCI Chapter Lampung berbagi

LAMPUNGMEDIAONLINE.COM adalah portal berita online dengan ragam berita terkini, lugas, dan mencerdaskan.

KONTAK

Alamat Redaksi : Jl.Batin Putra No.09-Tanjung Agung-Katibung-Lampung Selatan
Telp / Hp: 0721370156 / 081379029052
E-mail : redaksi.lampungmedia@gmail.com

Statistik

Copyright © 2017 LampungMediaOnline.Com. All right reserved.

To Top