“Kalau masuk pesantren tahfiz, emang masa depannya bisa jadi apa, sih?”
Pertanyaan itu pernah sampai kepada keluarga saya ketika ayah memutuskan memasukkan dua adik saya ke pesantren tahfiz Al-Qur’an. Alih-alih mendapatkan dukungan, keputusan tersebut justru dipandang sebelah mata. Bukankah anak seharusnya bersekolah di tempat yang bergengsi? Mengikuti kursus bahasa Inggris? Belajar piano? Atau mempersiapkan diri agar kelak menjadi dokter, tentara, dan profesi-profesi lain yang dianggap menjanjikan?
Saya pun pernah merasakan hal yang kurang lebih sama. Ketika anak-anak lain dibanggakan karena mengikuti berbagai kursus yang dianggap menunjang masa depan, saya justru mengikuti kursus tajwid. Tujuannya sederhana, agar saya dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
Di mata sebagian orang, kursus bahasa asing, musik, atau keterampilan lainnya adalah investasi masa depan. Orang tua rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit karena ilmu tersebut dianggap akan berguna bagi kehidupan anaknya kelak. Namun, mengapa ketika seorang anak belajar membaca Al-Qur’an, memperbaiki tajwid, atau menghafalkannya, pertanyaan yang muncul justru, “Nanti mau jadi apa?”
Seolah-olah ilmu agama baru dianggap berharga apabila dapat langsung menghasilkan profesi dan pendapatan.
Padahal, tidak semua pendidikan harus selalu diukur dari seberapa besar penghasilan yang dapat dihasilkan. Ada ilmu yang membentuk kemampuan kita untuk bekerja, dan ada pula ilmu yang membentuk cara kita menjalani kehidupan.
Kita tidak perlu mempertentangkan ilmu dunia dan ilmu agama. Keduanya memiliki tempat masing-masing. Anak yang belajar bahasa Inggris tidak berarti lebih baik daripada anak yang belajar Al-Qur’an. Begitu pula seorang penghafal Al-Qur’an tidak otomatis lebih unggul daripada mereka yang menekuni ilmu lainnya.
Persoalannya adalah ketika kita mulai memberikan penghargaan yang berbeda secara tidak adil.
Kita dapat membayar kursus bahasa asing dengan ratusan ribu rupiah. Kita tidak keberatan membayar les musik, olahraga, atau keterampilan lainnya. Kita bahkan dapat mengeluarkan biaya pendidikan yang sangat besar demi sekolah dan perguruan tinggi yang dianggap berkualitas.
Namun ketika seorang guru ngaji meminta iuran untuk mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur’an, tidak jarang terdengar keluhan, “Masa ngaji saja bayar?”
Ketika pesantren kecil membutuhkan biaya untuk menjalankan pendidikan, sebagian orang mempertanyakan mengapa harus membayar.
Bukankah guru ngaji juga membutuhkan biaya hidup? Bukankah pesantren juga harus membayar listrik, menyediakan tempat belajar, membeli kitab dan Al-Qur’an, serta memenuhi kebutuhan para pengajarnya?
Mengapa ketika kita membayar ilmu dunia, kita menyebutnya investasi, tetapi ketika membayar ilmu agama, kita merasa sedang dibebani?
Pertanyaan ini bukan berarti menganggap ilmu agama harus menjadi komoditas yang mahal. Justru sebaliknya, kita perlu menghargai orang-orang yang mendedikasikan waktunya untuk mengajarkan Al-Qur’an. Jangan sampai karena menganggap mengaji sebagai ibadah, kita kemudian menganggap pengajarnya tidak pantas mendapatkan penghargaan yang layak.
Kita tentu tidak ingin anak-anak hanya mampu mengejar nilai, gelar, dan pekerjaan bergengsi, tetapi tidak mengenal kitab suci yang menjadi pedoman hidupnya.
Al-Qur’an diturunkan bukan semata-mata sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW yang kemudian cukup kita simpan atau baca sesekali. Bagi umat Islam, Al-Qur’an adalah petunjuk. Karena itu, hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an semestinya tidak berhenti pada kemampuan membacanya.
Menghafal Al-Qur’an adalah sesuatu yang mulia. Namun lebih dari sekadar hafalan, kita juga perlu berusaha memahami maknanya, mempelajari kandungannya, dan menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan.
Sebab apa artinya kita mampu membaca banyak ayat jika kita tidak pernah berusaha memahami pesan yang terkandung di dalamnya?
Ramadan yang sebentar lagi tiba semestinya menjadi kesempatan untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: selama ini, seberapa dekat kita dengan Al-Qur’an?
Jangan sampai Al-Qur’an hanya menjadi sesuatu yang ramai dibaca ketika Ramadan tiba, kemudian kembali tersimpan setelah bulan suci berakhir. Jangan pula kita hanya bangga ketika anak mampu menghafal banyak juz, tetapi lupa mengajarkan kepadanya bagaimana menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam bersikap.
Mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan.”Kalau belajar tahfiz, nanti mau jadi apa?”
Karena seorang hafiz Al-Qur’an tetap dapat menjadi dokter. Ia dapat menjadi tentara, pengusaha, akademisi, guru, perbankan, maupun profesi apa pun yang ia pilih. Menghafal Al-Qur’an tidak menghapus cita-cita duniawi. Justru ilmu agama dapat menjadi bekal moral agar seseorang tidak kehilangan arah ketika mengejar cita-citanya.
Dan bagi mereka yang memilih menjadi ustaz, guru ngaji, atau pengajar Al-Qur’an, pekerjaan tersebut juga tidak seharusnya dipandang sebagai profesi kelas dua.
Kita mungkin tidak akan pernah bertanya kepada seorang guru bahasa Inggris, “Mengapa Anda mengajarkan bahasa Inggris? Bukankah lebih baik bekerja di perusahaan besar?”
Lalu mengapa pertanyaan serupa seolah pantas diberikan kepada mereka yang memilih mengajarkan Al-Qur’an?
Ilmu dunia membantu manusia menjalani kehidupan. Ilmu agama membantu manusia memahami untuk apa kehidupan itu dijalani.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Karena itu, jika suatu hari ada seorang anak yang memilih duduk di hadapan gurunya untuk belajar tajwid, menghafalkan ayat demi ayat, atau menempuh pendidikan di pesantren tahfiz, mungkin kita tidak perlu buru-buru bertanya, “Nanti mau jadi apa?”
Cukup tanyakan, “Apa yang bisa kita lakukan agar ilmu yang ia pelajari kelak membuatnya menjadi manusia yang lebih baik?”
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mencetak seseorang menjadi apa, tetapi juga tentang membentuk seseorang menjadi siapa.(*)
Travel Lampung Jakarta, Diantar sampai Rumah Ongkos Murah Layanan Prima
Travel Jakarta Lampung PP Dapat Free Snack dan 1 Kali Makan
Travel Lampung Depok via Tol Tiap Berangkat Pagi dan Malam
Harga Travel Bekasi Lampung Antar Jemput Murah sampai Rumah
Travel Palembang Lampung Lewat Tol Hemat Cepat sampai Alamat













