Provinsi Lampung terkenal dengan hasil perkebunannya, komoditas utama di Lampung saat ini adalah kopi. Menurut Budiman (2012: 528) Lampung merupakan daerah pengekspor kopi terbesar di Indonesia bahkan mencapai 70% dari keseluruhan ekspor kopi di seluruh Indonesia. Salah satunya Kabupaten Tanggamus sebagai daerah penyumbang kopi terbesar di Provinsi Lampung. Sebelum kopi menjadi primadona masyarakat Lampung, lada terlebih dahulu menjadi komoditas andalan di Lampung sejak zaman Kesultanan Banten hingga era kolonial. Dahulu pusat penanaman lada di Lampung berada di daerah Tulang Bawang, Semaka (Tanggamus), Seputih, Sekampung, dan Teluk Betung (Imanudin, 2016: 350). Namun, pada abad ke-19 lada sudah tidak lagi menjadi komoditas utama walaupun tetap penting bagi Belanda .
Kopi masuk di Tanggamus diperkirakan seiring dengan program politik etis melalui kolonialisasi Tahun 1905-1911. Para kolonis asal Jawa dan keturunan China membuka lahan dan mengembangkan tanaman Kopi. Hingga saat ini Tanggamus menjadi sentral komoditas kopi di Lampung dengan luas lahan sekitar 44.330 hektar dan hasil produksi 36.520 ton (Lestari , 2017: 1). Budidaya tanaman kopi ini terus bertahan bahkan pada masa setelah malaise, kopi menjadi tanaman unggulan bagi wilayah Lampung. Hal ini terjadi akibat berkurangnya popularitas lada di pasar internasional serta wabah hama yang menyerang tanaman lada sehingga menyurutkan produksi lada di Lampung. Lada sendiri pada era kolonial disebut sebagai mutiara hitam.
Adanya peralihan komoditas dari lada ke kopi berdampak pada masalah sosial dan ekonomi. program kolonisasi yang dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda berdampak pada kemajemukan etnis di Lampung khusunya Tanggamus. Bahkan setelah kemerdekaan indonesia, program kolonisasi ini diadopsi menjadi program transmigrasi untuk penyebaran penduduk secara nasional. Sehingga sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan sosial dan budaya. Hubungan antara masyarakat di Lampung terjalin Harmonis akan tetapi tetap ada konflik yang terjadi seecara langsung maupun tidak langsung. Selain itu adanya perkebunan kopi berdampak pada kebiasaan masyarakat lampung yaitu budaya minum kopi.
Konsumsi kopi Tanggamus digemari karena cita rasanya yamg khas dan efek fisiologisnya sebai minuman penyegar. Bahkan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi mengeluarkan surat edaran tentang hari jum’at sebagai hari minum kopi. Kopi semakin berkembang di Lampung khususnya Tanggamus, apalagai setelah produksi lada mengalami kemunduran, adapun faktor yang mempengaruhinya ialah karena minat masyarakat yang beralih ke komoditas yang lebih menguntungkan dan perawatan yang mudah sehingga masyarakat beralih penanaman ke kopi. Sehingga kebun lada mengalami penurunan yang drastis dan berpengaruh pada jumlah produksi lada Lampung. Karena merupakan salah satu minuman yang sering dikonsumsi masyarakat Lampung kopi dijadikan sebagai komoditas andalan dalam sektor perkebunan Lampung khususnya Tanggamus.

Perkebunan kopi masa Kolonial Belanda
- Ketua Tim Muhammad Rizkillah (Mahasiswa P. Sejarah Unila)
- Fera Verianti (Mahasiswa P. Sejarah Unila) anggota 1.
- Hilman Rifqi (Mahasiswa P. Sejarah Unila) anggota 2.
- Yusuf Perdana, S.Pd., M.Pd. (Dosen pembimbing PKM)
Travel Lampung Jakarta, Diantar sampai Rumah Ongkos Murah Layanan Prima
Travel Jakarta Lampung PP Dapat Free Snack dan 1 Kali Makan
Travel Lampung Depok via Tol Tiap Berangkat Pagi dan Malam
Harga Travel Bekasi Lampung Antar Jemput Murah sampai Rumah
Travel Palembang Lampung Lewat Tol Hemat Cepat sampai Alamat
