Sastra

Rindu Yang Terbalas

Karya : Eva Ariyanti

 

Namaku Humaira Azzahra, biasa dipanggil Ira. Aku anak ke tiga dari tiga bersaudara. Aku tinggal bersama ayah dan ke dua kakakku. Ibuku telah meninggal sejak aku berusia 2 tahun. Kata Ayah, kini aku tumbuh menjadi anak yang mandiri, baik hati, dan berbakti kepada orang tua dan kedua kakakku. Menurut orang-orang di sekitarku aku seorang anak yang pandai bergaul dengan semua orang. saat ini usiaku 21 tahun, di usia ini aku dihadapkan pada berbagai pilihan dan tantangan dalam hidup yang membuatku harus terus berjuang untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Aku mempunyai seorang sahabat  yang sangat tampan dan juga baik hati, namanya AulianBasira Ghaida, biasa aku panggil Ian. Aku dan Ian bersahabat sejak kami berusia 14 tahun tepatnya pada saat kami duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas 3. Pertemuan kami diawali ketika kami mengikuti ekstrakurikuler musik. Selama mengikuti ekstrakurikuler ini aku tak pernah bertemu Ian sebelumnya, ternyata ia tidak hanya mengikuti ekstrakurikuler musik saja tetapi ia juga ikut ekstrakurikuler basket. Saat itu, ketika aku berjalan menuju tempat ekstrakurikuler musik tanpa disengaja aku bertabrakan dengan Ian yang berjalan saling berhadapan dimana aku sedang sibuk mencari handphone yang aku taruh di tasku dan Ian yang berjalan ke arahku namun fokus dengan handphone yang dibawanya.

“Kamu ini bagaimana, jalan kok enggak liat-liat kalo di depan ada orang” ucapku kesal kepada Ian.

“Maaf, saya enggak tau kalau di depan ada orang, saya terlalu asyik bermain game” jawabnya.

“Kamu itu aneh yaa, main game kok sambil jalan, awas kalo kesandung jatuh, sakitnya sih enggak seberapa tapi malunya itu loh hem..” timpalku sambil memperlihatkan wajah kesalku.

“Iya-iya maaf aku memang salah” jawab Ian dengan penuh perasaan.

Aku tidak menjawab, ketika handphone yang ku cari di tas sudah ketemu dan sudah ada di genggamanku aku langsung pergi meninggalkannya yang ada di hadapanku.

Semenjak itu kami sering sekali bertemu di ruangan musik. Tadinya aku dan Ian canggung untuk bertegur sapa namun seiring berjalannya waktu kami saling menyapa satu sama lain, hingga semakin hari aku dan Ian semakin akrab dan akhirnya kami bersahabat sejak itu.

Kini aku dan Ian sudah berusia 21 tahun. Kulihat kembali foto kami berdua dengan tersenyum. Sejak perpisahan itu hingga kini aku tak pernah dengar lagi kabar Ian. Yaa, aku dan Ian berpisah sejak kami lulus SMA. karena Ian memilih untuk ikut bekerja dengan pamannya yang di Kupang, sedangkan aku memilih untuk melanjutkan ke perguruan tinggi yang dekat dengan tempat tinggalku. Aku merindukan sosok sahabat seperti Ian. Ia yang dulu begitu dekat denganku, kini tak ku sangka ia telah melupakanku dengan tidak adanya kabar. 2 tahun sudah perpisahan kami, aku rindu Ian, rindu serindu rindunya rindu. banyak sekali cerita kehidupanku yang ingin ku ceritakan pada Ian. Namun kini kuurungkan semua niatku itu.

“Ira..?” Tania memanggilku, saat ku dengar ada yang memanggilku, aku lalu tersadar dari lamunan.

“Iya tan” jawabku dengan tersenyum kepadanya.

“Pulang yuk, sepertinya mau hujan nih” timpal tania.

Aku langsung mengiyakan dengan menganggukkan kepala ke arah tania dan segera aku berdiri dari tempat duduk yang aku dudukin sedari tadi.

Awan tiba-tiba berubah menjadi gelap, ditutupi awan hitam yang menandakan ini akan terjadi badai yang sangat kuat. Langit seakan-akan ingin memuntahkan apa saja yang ada di dalamnya. Hujan rintik-rintik mengawali perubahan cuaca tersebut, aku dan tania memutuskan untuk mencari tempat berteduh sebelum badai benar-benar datang. Disanalah dia, di parkiran kampus yang tidak jauh dari taman tempat awal kami berbincang, aku dan Tania berteduh. Saat aku hendak ke parkiran tepat 5 langkah lagi aku akan sampai untuk berteduh, namun langkahku terhenti ketika aku melihat seseorang berdiri tepat dihadapanku. Aku memandangnya dengan penuh perasaan, diam namun penuh dengan pertanyaan-pertanyaan di pikiranku apa ini mimpi? Apa aku sedang bermimpi?. Langkahnya menghampiriku lalu menarik tanganku dan membawaku ke tempat ia berdiri tadi, hujan pun membasahi pipiku, untung saja ketika hujan turun dengan derasnya ia dengan sigap menarikku.

“Ian..” ucapku kepada laki-laki yang kini ada dihadapanku.

“Iya Ira” jawabnya sambil tersenyum kepadaku.

“Ini benar kamu Ian?, kapan kamu pulang?” ucapku dengan rasa penasaran.

“2 hari yang lalu Ira. Bagaimana kabarmu, baik bukan?” ucapnya kepadaku

“Iya aku baik-baik aja” jawabku sembari tersenyum dan tidak lagi menghadap kepada Ian.

Entahlah apa yang aku rasakan, yang pasti aku senang  sekali bertemu lagi dengan Ian. Begitu pun juga dengan Ian aku melihat yang tergambar dari raut wajahnya ia selalu tersenyum manis kepadaku.

Semenjak pertemuan itu, persahabatan kami menjadi sangat erat. Kami habiskan waktu yang ada untuk traveling, sebelum Ian harus berangkat lagi ke kupang. Ternyata kepulangan Ian hanya untuk bertemu denganku, aku senang mendengar kabar itu.

Itulah sahabat, akan selalu ada dan menghampiri ketika seluruh dunia menjauh. Kata orang, persahabatan itu ibarat seperti tangan dengan mata. Saat tangan terluka mata menangis, saat mata menangis, tangan yang menghapus air matanya. Percayalah ketika jarak memisahkan, kita tetaplah sahabat, karena persahabatan tidak diukur dengan jarak melainkan dengan hati.

 

Sekian…

 

 

 

 

 

 

LAMPUNGMEDIAONLINE.COM adalah portal berita online dengan ragam berita terkini, lugas, dan mencerdaskan.

KONTAK

Alamat Redaksi : Jl.Batin Putra No.09-Tanjung Agung-Katibung-Lampung Selatan
Telp / Hp: 0721370156 / 081379029052
E-mail : redaksi.lampungmedia@gmail.com

Copyright © 2017 LampungMediaOnline.Com. All right reserved.

To Top