Geliat Tuba bar

120 Kasus TBC Ditemukan di Tubaba, Dinkes Perkuat Skrining dan Pengobatan

Panaragan–lampungmediaonline.com

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, mencatat sebanyak 120 kasus Tuberkulosis (TBC) ditemukan hingga Juli 2026. Pemerintah daerah terus memperkuat upaya penanganan melalui skrining, investigasi kontak, pendampingan pengobatan, hingga edukasi kepada masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tubaba, Ns. Majril, S.Kep., MM melalui Sekretaris Dinas Kesehatan Eka Riyana, S.Kep., M.Kes, mengatakan pengendalian TBC masih menjadi perhatian serius karena penyakit tersebut merupakan salah satu penyakit menular yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.

“Penanganan TBC tidak hanya melalui pengobatan pasien, tetapi juga bagaimana menemukan kasus sedini mungkin, melakukan investigasi kontak, serta memberikan edukasi kepada masyarakat agar penularan dapat ditekan,” ujar Eka, saat dikonfirmasi media, Kamis (16/07/2026).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Tubaba, sebanyak 120 kasus TBC ditemukan melalui berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Kasus tersebut tersebar di sejumlah rumah sakit dan Puskesmas di wilayah Kabupaten Tubaba.

Kasus terbanyak ditemukan di RS Asy-Syifa Medika dengan 30 kasus, disusul RSIA UMMY Athaya sebanyak 22 kasus. Sementara itu, Puskesmas Non Rawat Inap Candra Mukti dan Puskesmas Non Rawat Inap Dwikora masing-masing mencatat sembilan kasus.

Selain itu, Puskesmas Panaragan Jaya, Mulya Asri, dan Suka Jaya masing-masing mencatat tujuh kasus. Puskesmas Toto Mulyo enam kasus, Mercubuana lima kasus, Toto Katon dan Kibang Budi Jaya masing-masing tiga kasus.

Sedangkan RSUD Tubaba, Puskesmas Margodadi, Indraloka Jaya, dan Pagar Dewa masing-masing mencatat dua kasus. Gilang Tunggal Makarta mencatat satu kasus, sementara Puskesmas Daya Murni dan Marga Kencana tidak ditemukan kasus TBC.

Eka menjelaskan, selain 120 kasus baru yang ditemukan tahun 2026, saat ini terdapat 147 pasien yang masih menjalani pengobatan. Jumlah tersebut terdiri dari pasien temuan tahun berjalan serta pasien lanjutan dari tahun sebelumnya.

“Untuk angka kesembuhan tahun 2026 tercatat sebanyak 64 orang, yakni pasien yang ditemukan pada akhir 2025 dan menyelesaikan pengobatan pada 2026. Sementara pasien rujukan dari luar wilayah Tubaba sebanyak 77 orang dan pasien yang dirujuk ke luar daerah sebanyak 25 orang,” jelasnya.

Dinas Kesehatan juga mencatat tidak terdapat pasien TBC yang mengalami putus obat. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan pendampingan dan pemantauan pengobatan terhadap pasien.

Meski demikian, upaya penanggulangan TBC di Tubaba masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah stigma masyarakat yang masih menganggap TBC sebagai penyakit memalukan atau sangat menular sehingga membuat sebagian penderita enggan melakukan pemeriksaan maupun pengobatan.

Selain itu, keterbatasan alat Tes Cepat Molekuler (TCM) juga menjadi kendala. Saat ini, Tubaba hanya memiliki satu alat TCM yang digunakan untuk melayani 16 Puskesmas.

“Pengobatan TBC membutuhkan waktu cukup lama sehingga masih ada tantangan agar pasien tetap disiplin menjalani pengobatan sampai selesai. Selain itu, sebagian masyarakat juga masih memilih melakukan pengobatan di luar daerah,” kata Eka.

Untuk menekan angka kasus dan meningkatkan keberhasilan pengobatan, Dinas Kesehatan Tubaba menjalankan sejumlah program, di antaranya skrining TBC melalui kegiatan Tubaba Q, investigasi kontak erat pasien TBC, serta skrining terhadap kelompok berisiko seperti penderita diabetes melitus (DM) dan Orang Dengan HIV (ODHIV).

Skrining juga dilakukan pada tempat-tempat yang memiliki risiko penularan lebih tinggi seperti pondok pesantren, sekolah, serta kawasan kumuh dan padat penduduk.

Dalam upaya memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas, setiap penanggung jawab program TBC di Puskesmas juga menunjuk Pengawas Menelan Obat (PMO) bagi pasien yang menjalani terapi.

Selain itu, petugas kesehatan melakukan pemantauan lanjutan melalui pemeriksaan BTA maupun kartu berobat pasien untuk memastikan perkembangan kondisi kesehatan penderita.

Dinas Kesehatan Tubaba mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap TBC dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menggunakan masker saat mengalami batuk atau gangguan pernapasan, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, serta menjaga sirkulasi udara di dalam rumah.

Masyarakat juga diminta menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, beristirahat cukup, serta menghindari kebiasaan merokok dan paparan asap rokok.

Adapun gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk selama dua minggu atau lebih, batuk berdahak yang terkadang disertai darah, demam atau berkeringat pada malam hari tanpa sebab jelas, penurunan berat badan, nafsu makan berkurang, serta tubuh mudah lelah.

“Apabila mengalami gejala tersebut, segera periksakan diri ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Deteksi dini sangat penting agar pengobatan bisa segera diberikan dan risiko penularan dapat dicegah,” imbau Eka.

Ia juga mengingatkan pasien yang telah didiagnosis TBC agar tidak menghentikan pengobatan sebelum waktunya karena dapat menyebabkan kuman menjadi kebal terhadap obat.

Dinas Kesehatan Kabupaten Tubaba memastikan upaya pemberantasan TBC akan terus diperkuat melalui kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, pasien, keluarga, dan masyarakat.

“Dengan meningkatkan kesadaran, menghilangkan stigma terhadap pasien TBC, serta mendukung kepatuhan pengobatan, kita menargetkan penularan TBC dapat terus ditekan menuju masyarakat yang lebih sehat dan bebas dari Tuberkulosis,” pungkasnya.

(Der)

LAMPUNGMEDIAONLINE.COM adalah portal berita online dengan ragam berita terkini, lugas, dan mencerdaskan.

KONTAK

Alamat Redaksi : Jl.Batin Putra No.09-Tanjung Agung-Katibung-Lampung Selatan
Telp / Hp: 0721370156 / 081379029052
E-mail : redaksi.lampungmedia@gmail.com

Copyright © 2017 LampungMediaOnline.Com. All right reserved.

To Top