Sastra

Perjuangan Tanpa Jeda

Karya : Yuli Kursiana

Matahari mulai tak menampakkan sinarnya, pintu-pintu dan jendela mulai tertutup rapat dengan keheningan yang menyelimuti malam itu. Aku masih tetap dimeja belajarku dengan ditemani secangkir teh hangat dan roti coklat kesukaanku, sampai aku lupa bahwa hari sudah mulai larut malam. Angin malam yang cukup dingin membuat bulu kuduku seperti sedang diterjang badai topan. Tempat tidur yang begitu nyaman membuat diriku ingin selalu menghampirinya.

Besok adalah hari yang di nanti-nanti oleh semua siswa siswi yang ada di sekolahku begitu pun juga denganku, yaps pengumuman kelulusan. Inilah saat yang aku tunggu, aku tak sabar ingin melanjutkan kuliah setelah ini, karena itu adalah impianku sejak kecil.

Keesokan paginya aku bergegas untuk menuju sekolahku. Dan setelah kami semua dinyatakan lulus, saat inilah aku akan benar-benar merasakan kehidupanku yang sebenarnya. Dengan usia yang masih muda dan masih bersifat ke kanak-kanakan, begitu kata orang-orang disekeliling rumahku.

Malam pun kembali menghampiriku dengan keheningan yang sama. Akupun terus membuka ponsel ku dan mencari informasi tentang pendaftaran kuliah di Universitas negeri yang ada di Lampung. Tak lama kemudian setelah aku mendapatkan informasi pendaftarannya, rasanya tak sabar ingin ku beri tahu ibu dan bapakku. Yah sungguh bahagia sekali aku malam itu, seperti mendapatkan hadiah yang tak disangka-sangka datangnya. Ntahlah seperti mimpi yang nyata bagiku.

Tok .. tok… tok terdengar suara ketukan pintu . Ya Masuk. “Ohh ibu, ada apa bu ? “ ujarku.

“Nggak papa, ibu cuma pengen ngobrol sama kamu” (Ibu terdiam sejenak dan aku tersenyum melihat ibu).

“Alhamdulillah ya nak kamu sudah lulus, berarti itu tandanya anak ibu udah dewasa” sekarang, (sambil memegang tanganku). “Ibu boleh tanya ? “cetus ibuku.

“Boleh ibuku sayang, emang tanya apa sih bu?” (Ibu kembali terdiam sejenak sambil menundukan pandangannya dari ku).

“Ibu pengen sekali kamu melanjutkan sekolahmu nak, tapi ibu nggak ada biaya buat kamu lanjut ke sekolah yang lebih tinggi. Jadi kemarin itu ada ibu-ibu yang tanya sama ibu nanyain kamu mau lanjut kemana, ibu cuma jawab gak tau soalnya gak ada biaya buat lanjutin sekolahnya si Naya “ ujar ibuku.

(Akupun langsung memegang tangan ibuku) ”Ibu, jangan dipaksain kalo emang nggak ada biaya, Naya gak papa kok nggak lanjut kuliah juga. Ibu nggak usah dipikirin ya, kan ibu bilang kalo Naya sekarang ini udah besar, Insyaallah nanti Allah kasih jalan terbaik buat Naya” (Ibuku tersenyum kepadaku sambil mengambil nafas lega).

(Ibuku berdiri sambil mengusap kepalaku sambil keluar meninggalkanku) “tidur jangan malem-malem ya”.

“Baik Komandan” ujarku.

Ketika malam semakin menampakan kesunyiannya, aku pun masih duduk di kursi belajarku sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah ibuku berbicara seperti itu. Aku sempat berfikir aku akan berbicara dengan ibu untuk melanjutkan studyku dan bisa menggapai impianku menjadi seorang profesor, tapi sepertinya itu semua tak mungkin untuk ku ucapkan kepada ibu. Aku tak tega dengan keadaan ibu saat ini. Aku memang dilahirkan dari keluarga sederhana yang tidak semua keinginanku bisa terpenuhi. Ya mungkin ini memang sudah jalan hidupku. Tapi tekad ku sama sekali tak menggoyahkan semangatku saat itu.

“Apakah aku harus kuliah sambil kerja?, atau aku cari kuliah yang bisa masuk dua kali dalam seminggu?, atau aku cari Universitas yang mengadakan beasiswa? (gumamku)”.

Tak banyak dari semua teman-temanku yang lulus ingin melanjutkan studinya dan salah satunya yaitu aku. Pada saat siswa siswi lulusan SMK Al-Fajar di minta kesekolah untuk mengambil berkas-berkas disinilah kami berbincang-bincang akan kemana kami akan berkelana setelah ini. Disaat itulah aku bertemu dengan sahabatku Arin, dia adalah sosok wanita cantik, imut dan sahabat terbaik yang pernah aku kenal. Aku dan Arin pun menghampiri anak-anak yang sedang berada didepan  mading sekolah.

BACA JUGA:  TUHAN MEMPUNYAI RENCANA LAIN

(Aku pun bertanya kepada salah satu anak yang ada disana), “itu ada apaan sih kok pada rame-rame ngeliatin mading?”.

“Itu lo ada pengumuman beasiswa buat kuliah sama Universitas yang memberikan keringanan biaya untuk lanjut kuliah” ujarnya.

Aku dan Arin pun semakin penasaran dan mendekat untuk melihatnya sambil berhimpit-himpitan dengan anak-anak yang lainnya.

“Wahh Nay banyak banget Universitas yang ngadain beasiswa, kamu mau lanjut kemana?” ujarnya.

Aku pun hanya terdiam sambil melihat pengumuman itu. Ntahlah dalam hatiku tekad dan niatku begitu membara-bara seperti kobaran api yang jika terkena air pun dia tak akan padam.

Setelah itu, aku dan Arin menuju perjalanan pulang. Dalam perjalanan kami terus saja membicarakan tentang kuliah dan pekerjaan, tapi pada saat itu ada banyak anak muda yang sedang membagikan sebuah brosur di pinggir jalan.

“Nay itu brosur apaan sih yang dibagiin sama mereka ?” ujar Arin.

“Gak tau juga coba deh kita berenti nanti ya di sana” ujarku.

(Setelah itu kami pun di berikan salah satu brosur dari mereka). “wahh ini nih yang kita cari Nay, kuliah sambil kerja dan ada beasiswa juga buat anak yang gak mampu, aku mau bilang sama ibuku deh. Kamu mau ikut daftar nggak Nay ? “ ujar Arin.

Aku hanya terdiam sambil melihat brosur tersebut. Setelah itu aku pun sampai di rumah Arin.

(Arin turun dari motorku dan langsung berlari menghampiri ibunya yang sedang menyambutnya di depan  rumah).

“ ibu… bu ada kabar baik, ini liat deh brosurnya. Ada Universitas yang kasih keringanan biaya dan kuliahnya juga sambil kerja” ujar Arin kepada ibunya dan ibunya tersenyum bahagia kepada Arin.

Sementara itu aku hanya bisa ikut turut bahagia kepada sahabatku yang memang di dukung dan dalam hal ekonomi pun lebih terpenuhi dari pada aku. Setelah itu aku pun segera berpamitan kepada mereka untuk pulang. “Arin aku pulang dulu ya. Mari ibu” (ujarku kepada mereka sambil melambaikan tanganku).

Sesampai aku di rumah, aku melihat bapakku yang sedang memberikan pakan ternak kepada kambing-kambing tetangga yang ia rawat selama ini. (Kalo menurut bahasa kami “nggadoh” itu artinya memelihara kambing tetangga dan jika sudah layak jual uangnya di bagi dua)

Setelah bapakku selesai mengurusi kambing-kambingnya dan masuk ke dalam rumah , akupun langsung menghampirinya. “pak Naya mau bilang sesuatu” (sambil mengeluarkan brosur yang di bagikan oleh anak-anak bagikan di pinggir jalan tadi).

“mau bilang apa? “ ujar bapak.

“ini lo pak (sambil memberikan brosur itu kepada bapak). Naya pengen kuliah pak, itu ada kuliah yang ada keringanan biaya dan bisa kuliah sambil kerja. Menurut bapak gimana ? apa Naya boleh kuliah di situ pak ?” ujarku.

“kamu beneran pengen kuliah ? bapak setuju kalo kamu kuliah, cuma yang jadi masalahnya emang kamu kuat untuk kuliah sambil kerja apalagi namanya orang kuliah pasti banyak tugas belum lagi kamu kerja pasti capek banget. Bapak pengennya kalo kamu mau kuliah, ya kamu fokus sama kuliahmu gak usah sambil kerja, tapi berhubung bapak gak ada biaya nak, bapak takut kamu kuliahnya berenti ditengah jalan karena biaya yang gak bisa terpenuhi”. ujar bapak sambil menyerahkan brosur itu kepadaku.

“pak Naya yakin pasti bisa pak, tapi kalo masalah biaya Naya gak bisa paksa bapak kalo gak ada. Kalo gitu Naya ke kamar dulu ya pak” (aku segera beranjak dan memasuki kamarku).

Sore ini sinar senja yang begitu indah nampak jelas dari jendela kamarku. Aku masih tetap memikirkan tentang kuliah dan pekerjaan. “Setiap orang pasti ingin sukses dan bisa menggapai impiannya. Mungkin Allah memberikan jalan kesuksesan lain untukku dan itu bukan dengan aku melanjutkan kuliah. Saat ini yang aku butuhkan adalah pekerjaan, aku gak boleh mengeluh dengan keadaanku saat ini, aku harus punya tekad untuk menggapai impianku. Menabung dari hasil kerjaku dan nantinya akan aku gunakan untuk biaya kuliahku, itu adalah salah satu cara agar aku bisa kuliah” ujarku dalam hati.

BACA JUGA:  Medi : Ayok Jadi Relawan Kemanusiaan

Hari semakin gelap dan ibuku pun belum pulang kerumah karena ada acara khitanan di desa sebelahku dan di sana ibuku di minta untuk membantunya (jika dalam bahasa kami adalah “rewang”).  Gemuruh angin begitu meyeramkan sore ini dan akupun khawatir dengan ibuku yang tak kunjung pulang.

“Naya… Nay… kamu dimana?” ujar bapak ku sambil mencariku.

“Naya disini, ada apa pak ? (sambil berjalan menghampiri bapak).

“coba kamu susul ibu mu, sepertinya akan hujan lebat kasian ibu nanti gak bisa pulang kalo kejebak ujan” ujar bapak kepadaku.

“iya pak (sambil mengeluarkan motor), Naya berangkat ya pak. Assalamualaikum”.

Akupun langsung menuju kesana dan dalam perjalanan langit semakin gelap dan rintik hujan semakin rapat dan angin tak kalah kencangnya sore ini, aku hanya berdoa semoga di berikan keselamatan dalam perjalanan. Karena biasanya di desa kami jika hujan turun sangat lebat dan angin begitu kencang pasti pohon-pohon banyak yang tumbang dan ranting-ranting banyak berjatuhan di jalan-jalan.

Setelah aku sampai di acara itu. Aku segera mencari ibuku dan akhirnya karena aku kesulitan untuk mencarnya, aku bertanya kepada salah satu ibu yang ada di sana. Ia adalah salah satu tetanggaku yang sedang membantu di acara itu juga.

“bu mau tanya, ibuku dimana ya ?” tanyaku kepada ibu itu.

“Owhh, kalo ibumu masih di dalam kayaknya Nay. Ada apa ?” ujar ibu itu.

“nggak ada apa-apa bu, boleh minta tolong panggilin nggak bu ?”  ujarku kepada ibu itu. Tak lama kemudian sebelum ibu Asrih memanggil ibu, ibuku sudah menghampiriku.

“itu ibu mu Nay” (sambil menunjuk ke ibu yang sedang berjalan ke arahku).

“makasih ya bu, kalo gitu saya kesana dulu” (berjalan menghampiri ibu).

“bu mau pulang kapan? udah mau ujan deras ini” tanyaku pada ibu.

“tunggu bentar ya, ibu mau pamitan dulu sama yang punya rumah” Ibu langsung pergi meninggalkan ku untuk berpamitan.

Tak lama kemudian ada seorang ibu yang menghampiriku ia adalah seorang istri dari seorang guru terhormat di desa kami. Tradisi yang ada di desa kami yang memang dari dulu tak pernah punah adalah jika ada seseorang yang kaya dan bisa menguliahkan anaknya merupakan orang terhormat dan selalu di pandang baik dan layak untuk di hormati.

“ehh Naya ya? Ngapain disini ? kenapa gak masuk? “ tanya ibu itu kepadaku . Sebut saja bu Ayuni namanya, yang merupakan orang terhormat di desa kami.

“iyaa bu. Ini lagi nungguin ibu lagi pamitan mau pulang bu”  jawabku.

“oh ya kamu lanjut kuliah dimana ini? Kok kayaknya gak ada kabar mau lanjut kemana” cetus ibu Ayuni kepadaku.

“nggak lanjut kayaknya bu, soalnya gak ada biaya buat lanjut kuliah” jawabku sambil tersenyum.

“ya ampun, kamu kan anak pinter, di sekolah juga kan dapet peringkat terus kan, mending lanjut aja. Sekarang ini kan banyak perkuliahan yang kasih keringanan biaya, coba daftar-daftar aja sapa tau bisa dapet beasiswa kan. Ya udah nanti ibu bilang ke suami ibu ya tak suruh cariin kuliah yang biayanya gak terlalu mahal dan banyak ngadain beasiswa ya”  (sambil menepuk pundakku).

“terima kasih bu, tapi Naya gak tau bisa lanjut kuliah apa nggak, karena kasian sama orang tua bu. Takutnya nanti malah kuliahnya berenti ditengah jalan aja” jawabku ke ibu Ayuni.

BACA JUGA:  Drama Korea Lebih Diminati Kalangan Muda Di Indonesia

Setelah aku menunggu agak lama dan berbincang-bincang dengan ibu Ayuni, ibu ku pun segera menghampiriku dan mengajakku untuk pulang, karena langit begitu terlihat gelap. Sesampai ku dan ibu di rumah, ibuku pun langsung duduk di dekat jendela ruang keluarga sambil menghela nafas lega karena  bisa beristirahat. Aku pun menghampiri ibu, sebenarnya aku ingin bilang ke ibu kalo tadi bu Ayuni mau bantuin masalah kuliah. Tapi aku ragu untuk bilang ke ibu.

Tak lama kemudian karena ketidaksabaran untuk bercerita ke ibu aku pun langsung bercerita kepada ibu yang masih mendinginkan badan di depan kipas angin.

“ bu, Naya mau cerita. Tadi pas Naya nungguin ibu di sana bu Ayuni itu nyamperin Naya terus nanyain tentang kuliah, Naya jawab aja kalo gak lanjut karena gak ada biaya gitu, dan bu Ayuni mau bantuin Naya biar bisa lanjut kuliah dan mau nyariin Universitas yang kasih keringanan biaya dan banyak ngadain beasiswa” ujarku kepada ibu.

Sebelum ibu menjawab ceritaku terdengar ketukan pintu.

“Assalamualaikum” (aku segera berlari membuka pintu).

“Waalaikumsalam, ehh bu Ayuni. Ada apa bu? tanyaku kepadanya.

“ibu sama bapak ada nggak Nay?” tanya nya kepadaku.

“ada bu, sebentar ya Naya panggil. Bu.. Pak.. ini ada bu Ayuni” (sambil menghampiri ibu dan bapakku).

“owalah bu Ayuni. Ada apa ya bu?” cetus bapak kepadanya.

“ini lo saya ada formulir pendaftaran dan penjelasan tentang masalah biaya di perkuliahan. Ini tempatnya di Metro pak nanti bisa di baca-baca dulu sapa tau kan berminat, tadi kata suami saya Naya bisa masuk ke jalur bidikmisi. Tapi ada banyak berkas yang harus di penuhi dulu. Sayangkan kalo gak lanjut dia kan anaknya pinter pak” ujar bu Ayuni.

“iya bu, terima kasih atas informasinya. Tapi banyak orang-orang bilang kalo kuliah itu mahal bu, maka dari itu saya gak berani masukin anak saya kuliah.” Ujar bapak kepada bu Ayuni.

“nggak kok pak, itu kan udah ada perincian biayanya. Jalanin saja dulu, gak seberat yang dibayangkan kok. Apalagi itu Universitas negeri kan jadi banyak keringanan biayanya” ujar bu Ayuni.

Setelah itu bu Ayuni pun berpamitan untuk pulang. Aku pun segera melihat brosur itu dengan begitu semangatnya, dan segera mengisi formulir pendaftaranya. Alhamdulilah ibu dan bapakku setuju untuk aku melanjutkan kuliah. Tak lama setelah aku mendaftarkan diri di Universitas itu aku pun langsung di terima di jalur Bidikmisi, walaupun jurusan yang ku ambil tak sesuai dengan keinginanku. Tapi aku tetap bersyukur Allah telah memberikan jalan untuk ku melanjutkan kuliahku.

Setiap perjuangan pasti ada kemenangan. Allah itu gak pernah tidur kok, ia tau yang terbaik untuk hambanya. Menurutku bu Ayuni adalah perantara dari Allah untukku. Bahkan sahabatku Arin dia sekarang malah bekerja sebagai buruh pabrik dan ia tak mau lagi berteman denganku lantaran aku kuliah.

Jika mau berusaha dan mempunyai tekad tinggi pasti semuanya akan tercapai. Allah selalu memberikan jalan untuk hambanya yang mau berusaha. Dan akhirnya aku bisa kuliah dengan tidak banyak memungut biaya. Bahkan aku banyak mendapatkan prestasi di kampusku bukan hanya dari beasiswa bidikmisi tapi dari beasiswa yang lainnya juga. Terima kasih ya Allah sungguh luas kuasamu.

 

LAMPUNGMEDIAONLINE.COM adalah portal berita online dengan ragam berita terkini, lugas, dan mencerdaskan.

KONTAK

Alamat Redaksi : Jl.Batin Putra No.09-Tanjung Agung-Katibung-Lampung Selatan
Telp / Hp: 0721370156 / 081379029052
E-mail : redaksi.lampungmedia@gmail.com

Statistik

Copyright © 2017 LampungMediaOnline.Com. All right reserved.

To Top