politik

Hasteg Sebagai Bentuk Kebebasan Dalam Ruang Demokrasi Indonesia


Oleh : Nehru Asyikin

Mahasiswa Pascasarjana Program Magister Ilmu Hukum

 

Nama-nama Calon Presiden dan Wakil Presiden telah diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) beberapa waktu yang lalu, dari pengunguman itu keluarlah nama-nama dari 2 Pasangan calon yang telah memenuhi syarat untuk maju pada Pemilihan Umum 2019 mendatang. Tentu saja, sebelum adanya pengunguman dua kandidat itu kita sudah mampu memprediksi siapa saja yang bakal maju dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2019 mendatang.

Sebab, sejak 2018 yang lalu, ada fenomena booming di media-media sosial mengenai sebuah kampanye yang di usung melalui Hasteg. Jika di baca, text yang tertulis memiliki pesan yang sederhana sehingga mudah dipahami, sebab preposisi kata-kata dalam hasteg tersebut mudah di ingat dan akrab di telinga masyarakat karna memang kalimat tersebut langsung pada point yang hendak disampaikan.

Sehingga Hasteg telah difahami sebagai bagian dari impelementasi demokrasi yang telah terjadi saat ini, mengganti rezim misalnya, ketidakpuasaan masyarakat atas kepemimpinan yang masih berlangsung merupakan hak konstitusional apabila pemilihan umum akan datang sukses mengalahkan incumbent yang sekarang untuk tidak menjabat kembali. Di sisi lain, kemunculan tagar tersebut ternyata menimbulkan reaksi yang sama pada kubu pendukung incumbent, upaya pun sama yaitu melakukan aksi lewat instrumen yang sama (media sosial) dan turun ke jalan berkumpul menyampaikan kampanyenya dengan mengusung Tagar (‘#’), sebagai kubu pendukung petahana untuk menjabat kali keduanya, mereka tidak akan tinggal diam menunggu sampai Pemilu 2019 berlangsung. Tetapi tetap mewaspadai pergerakan lawan-lawannya di media sosial maupun di ruang-ruang publik agar masyarakat tidak terpengaruh dengan kubu lawannya dan terus melakukan pergerakan untuk mengarahkan massa pendukung ke Pemilu mendatang dengan gerakan yang sama. Hal ini dilakukan agar eksistensi petahana tetap stabil dan terus mendapat kepercayaan kepada masyarakat.

Selain itu, Hasteg “#” sebagai kebebasan berekspresi dalam bagian demokrasi terus mengalami perkembangan semakin kesininya, sejalan dengan perpolitikan di Indonesia bukan merupakan keheranan jika ada kegaduhan saat-saat mendekati Pemilihan umum, hal itu dianggap wajar, dan apakah itu atas dasar kebebasannya ataupun doktrin pihak lain itu permasalahan lain. Maka dapat dikatakan bahwa kebebasan berpendapat itu dinamis yaitu memiliki pola yang beragam meskipun di sisi lain apakah kebebasan yang dinamis ini memiliki keteraturan (order) dalam setiap perkembangannya atau tidak.

Menurut penulis, kalimat dengan Tagar (#) saat ini sebetulnya menggunakan simbol-simbol itu atas nama kebebasan, kepentingannya ialah untuk menyampaikan makna dari apa yang dituliskan agar orang melihat tanpa harus dijelaskan artinya, sehingga kebebasan itu dapat berlindung di bawah simbol-simbol yang hendak di sampaikan tanpa provokasi lisan yang itu men ciderai misi. Dengan menggalang opini dengan menggunakan teknik berkonominasi secara khas di media sosial mencanangkan tanda ‘#’ untuk mengakumulasi opini.

Melalui perangkat lain yang di pakai, seperti kaos, topi, dan bentuk mercendais yang lain. Cara kreatif inilah dalam komunikasi politik bertujuan untuk mengelola pengorganisasian pendapat yang memunculkan opini publik dari input ke proses penggabungan argumentasi atau hak yang hendak di sampaikan menghasilkan opini kelompok/masa, dan output dari opini publik tersebut menghasilkan opini pribadi yang dipegang teguh, sehingga komunikasi politik semacam ini apabila berhasil dapat membentuk sebuah representasi dari pendapat-pendapat yang sama dengan pesan yang tersembunyi dari tagar (#) tersebut, pada akhirnya pesan yang sudah dikelola diyakini secara personal oleh seseorang atau kelompok terhadap issu politik yang dilontarkan berupa pandangan politik, agama, moralitas, kebangsaannya dan lingkungan sosialnya sehingga informasi yang diyakini kebenarannya akan menjadi landasan argumen bagi mereka untuk terus mempertahankan keyakinannya atau dengan kata lain, bujukan dari Tagar tersebut dibuat dengan hati-hati agar sentimentil masyarakat bisa lebih dekat bahkan ikut menyebarluaskan propaganda ini. Jadi informasi yang disampaikan dapat merubah kepercayaan masyarakat dalam melihat issu-issu politik dan pada akhirnya mereka percaya dan dapat berpengaruh secara langsung dalam Pemilu selanjutnya, dimana hal itu menjadi akhir tujuan dari opini yang sengaja dibentuk. Bahkan ini juga dapat mempengaruhi kehidupan perpolitikan sebab dapat membalikkan keadaan yaitu masyarakat akan menjadi kekuatan massa yang besar untuk membentuk aspirasi politik (kebebasan) dengan mengusung tagar tersebut.

Sehingga efek sistemik dari dari kebebasan ini adalah sebagai dalih untuk mencapai tujuan politik yang diharapkan, melalui media sosial masyarakat atau siapa saja dapat memberikan pandangannya atas kekurangan-kekurangan yang tidak sesuai yang di ingini oleh mereka terhadap pemerintahan yang sedang berjalan. Ada peran dibalik menghegemoni masyarakat melalui informasi yang disebar di seluruh aplikasi teknologi media sosial itu, selalu ada aktor-aktor intelektual yang aktif merubah pola pikir masyarakat dan sedikit demi sedikit membentuk opini yang nantinya menggeser opini tersebut ke arah kepentingan si aktor.

Dalam sistem pemerintahan dewasa ini, petahana pasti akan mencalonkan kembali sebagai Presiden untuk kedua kali, tentunya karna dukungan partai politik atau gabungan partai politik di parlemen, kemudian muncul sosok lawan dari petahana dengan akumulasi partai atau gabungan partai yang cukup untuk mendukung calon tersebut. Sehingga dari pengunguman KPU keluar lah dua kandidat yang telah memenuhi syarat pencalonan dan akan bertarung untuk memperebutkan kursi Presiden pada Pemilu mendatang, karna hanya dua kandidat yang ada maka jelaslah sesuai dengan pesannya adalah mengajak masyarakat untuk tidak lagi memilih petahana maka kemudian pengorganisir suara masayarakat dari Hasteg tersebut akan masuk kecalon lawan petahana.

Akar di atas, tentunya melalui sosial media dengan memanejemen opini untuk mengorganisir pendapat ditengah persaingan di alam politik yang begitu ketat. Dewasa ini keberadaan media elektronik telah gencar-gencarnya dijadikan sebagai media untuk menyampaikan kepentingan politik, hadirnya media sosial telah dimanfaatkan oleh orang yang memiliki ambisi politik, selain menyediakan informasi, disisi lain memiliki fungsi agar kepentingannya bisa tersampaikan dengan cepat dan mudah. Fenomena yang muncul kehadiran tagar itu tidak lain karna adanya media sosial yang populer di tengah masyarakat, dimanfaatkan sebagai instrumen dalam ajang promosi dari para calon presiden dan wakilnya karna memang melihat dana yang dibutuhkan untuk kampanye yang begitu mahal, sehingga selain sebagai menilai antusias masyarakat dan menghimpun suara, disisi lain juga sebagai penghemat biaya. Dengan polesan propaganda dan retorika yang terarah apapun bisa di susupkan secara masif demi kepentingan dengan memperkuat pesan pada Hasteg agar masyarakat ikut menentang Rezim sekarang.

Meskipun pemaknaan rule of law harus tidak dipedulikan, sebab kebebasan saat ini dimaknai begitu luas dan tak ada ujung, apalagi hal tersebut diusung melalui simbol yang secara Norma tidak tertulis dalam hukum positip. Pesan-pesan politis berupa tuntutan tanpa mengacu pada nilai budaya politik Indonesia yang pluralis sebab memang sistem politik demokrasi memiliki ideologi terbuka sekaligus dinamis maka ia terus berkembang. Refresentasinya dapat dilihat dari tindakan yang dilakukan rakyat yang dewasa ini telah mengalami transformasi yang ekstream, muncullah bentuk representasi harapan (representation in presence), yaitu (‘#’) 2019GantiPresiden dan (‘#’) 2019TetapJokowi yang merupakan hasil reproduksi dari kebebasan berpendapat yang lahir di media-media sosial. Sehingga adanya simbol Hasteg pembeda dari keduanya dapat di simpulkan simpati dari pemilih juga akan berbeda. Sehingga cara kampanye dengan Tagar berbuah pada pertarungan politik, konsep, ide yang sistematis yang digemborkan sebagai tema untuk terus menggulirkan opini-opini publik yang dapat merubah cara berfikir bahkan cara bertindak seseorang atau kelompok.

Dan yang terjadi, kehadarian keduanya mencetuskan perang simbol satu sama lain yang berbeda kepentingan sehingga merubah persepsi dan tingkah laku dari keduanya. Sama-sama menggunakan simbol Hasteg yang masuk keranah pembicaraan politik dan tindakan seperti turun ke jalan, mendklarasikan Hasteg di beberapa daerah demi lebih meyakinkan publik. Menurut Dan Nimmo kombinasi lambang dapat menghasilkan cerita oleh si komunikator dengan tehnik media yang digunakan untuk berbicara dengan khalayak secara persuasif. Sehingga keduanya memiliki daya injeksi karna Hasteg (simbol) yang diprakarsai langsung mengarah kepada incumbent.

Sehingga hal diatas sebenarnya dapat dimaknai bahwa hasteg saat ini sebagai bentuk ekspresi seseorang dan kelompok demi menuju pergantian Rezim 2019 mendatang di panggung elektoral atau tetap mempertahankan Rezim ini sebagai suksesi dari tujuan mereka. Melalui kebebasan yang diberikan demi menyalurkan keinginannya dengan cara mengorganisir opini publik melalui media sosial, maupun berkumpul dan mengutarakan pendapat di khalayak umum sebagai ruang demokrasi untuk penyaluran aspirasi rakyat, sehingga senyatanya tagar ini telah berlindung terhadap kebebasan demi pergantian pemimpin atau tetap pada dua periode.

LAMPUNGMEDIAONLINE.COM adalah portal berita online dengan ragam berita terkini, lugas, dan mencerdaskan.

KONTAK

Alamat Redaksi : Jl.Batin Putra No.09-Tanjung Agung-Katibung-Lampung Selatan
Telp / Hp: 0721370156 / 081379029052
E-mail : redaksi.lampungmedia@gmail.com

Statistik

Copyright © 2017 LampungMediaOnline.Com. All right reserved.

To Top