Sastra

Puisi Rudi Santoso


MENUNGGU PERTEMUAN JULI

Hampir enam musim, langit kelam bersenggama pada pikiran-pikiran yang aneh

Melihat tempat tidurmu telah dimakan usia, sedangkan aku anakmu menikahi nasib dengan wajah yang luka

Bapak telah mati akal di sudut-sudut rumah

Kebingungan seperti raja saat prajuritnya kalah di medan perang

 

Hampir enam musim, takbir menghilangkan tubuhnya tanpa balut kain

Masuk pada rumah semut, kupu-kupu menyanyikan lagu kematian pada taman

Burung hantu mengiau diatas rumah tanpa di undang serta ucap salam

Masihkah angan yang ku ceritakan padamu dulu menjadi lautan pada pikiranmu

Yang ku yakini telah hilang pada kemegahan hidupmu

Semoga juli bukan musim yang ke tujuh

Dimana takbir menyamahi Izrail

Hingga kita saling bergantian mengeucup kening

Atas prasangka buruk pada mu, ibu

Jogja-Madura, 1437 H/ 2016

 

06 JULI 2016

CATATAN KANGEN

 

Kita akan mencatat kangen

Kangen yang selama enam musim

Membunuh para kaum dermawan

Alam akan ikut berpesta, berbangga ria

Tahajjud yang menjadi pelabuhan harap

Pun ingin di ucapkan, terimakasih

Jogja-Madura, 1437 H/ 2016

PAGI DI DAPUR

Piring pecah

Gelas berserakan

Pisau tumpul

Angin tak menyudahi peluh ibu yang memasak

Anak kecil menangis karena tak punya baju baru

Ayah sibuk mencari hutangan

Motor butut habis bensin

Sandal jepit putus sebelah

Lorong tak beraspal

Masjid-masjid sudah melantunkan gema takbir

Menyiarkan para jama’ahnya untuk segera berangkat ke masjid melaksanakan shalat id

Pagi di dapur adalah pertengkaran keluarga yang tak punya baju baru di hari raya

Bersyukurlah pagi masih bersinggah di dapur itu

Adakala orang-orang mendamba pagi

Sebagai pertemuan suami-istri menebar ats pertengkarannya  di kamar tidur semalam

Jogja-Madura, 1437 H/ 2016

 

BIRIR

Sudah mengecup

Gairah tamat

Di ujung bibir ada tangis kekasih

 

Aku lemas

Bibir penuh luka

Esok masih ada

Kekasih masih ketagihan

 

Syaitan pergilah

Jogja-Madura, 1437 H/ 2016

 

BOCAH KECIL DALAM INGATAN

Siapa yang tak bosan hidup

Pun manusia banyak mengalaminya

 

Jika masalah telah mengintai kantuk dan mata binarnya

Kekasih meninggalkan kangen

Menikah dengan pilihan bapak-ibunya

 

Pernikahan menikam jantung

Air mata menagis sejadi-jadinya

Mata binar

Ketakutan

 

Bocah kecil mengamen pada angkutan umun

Ke angkutan umum lainnya

Suara gitar kecil memadu suaranya

Aku ingin bangkit

Bocah kecil itu telah menjadi artis

Tak ada yang perlu disesalkan lagi

Dengan iri

Aku telah bangkit

Jogja-Madura, 1437 H/ 2016

 

MEMINTA

Berikan aku mobil

Rumah mewah

Wanita cantik

Penuhi ATM ku dengan banyak uang

Setelah itu, aku akan rajin menunaikan ibadah

Upsss…ssssss

Gak jadi tuhan

batalin semua  permintaan ku itu

Aku masih mau mancari rumput

Agar sapi-sapi ku gemuk dan terjual mahal

Lagian aku masih belum meninggalkan klub malam dan minum bir

Setelah aku tobat

Nanti akan ku pikirkan apa saja yang ku mau

Jogja-Madura, 1437 H/ 2016

 

SESAL

Manusia banyak megalah terlebih dahulu

Tanpa marasakan hangat matahari

Antara harap dan peluh

Adalah dua wajah koin

Yang tak bisa bertemu

Manusia lebih banyak pasrah

penyuka gelisah dan resah

Jogja-Madura, 1437 H/ 2016

 

 

TANPA UJUNG

Mengikuti bayangan

Bayangan pun mengikuti

Menuju yang tak bisa diketahui

Aku ingin melangkah saja

Tanpa berbuat salah

Setidaknya aku telah memuskahkan

Pikiran-pikiran yang tak berujung

Yang penuh keanehan

Jika lelah

Sekejap aku ingin minum

Dari air sungai yang mengalir semaunya

 

Daun kering ikut berlayar

Tanpa ujung

Terhenti pada akar-akar pohon

Kematian hanyalah ujung dari perjalanan

selebihnya hanyalah angkuh dan dada yang dibusungkan oleh manusia

Jogja-Madura, 1437 H/ 2016

 

KEHIDUPAN

Jari-jari kaki luka

Setelah perjalan ke sungai

Mencari ikan-ikan yang terdampar

Terkena racun

Air mata melukai wajah

Raja dalam catur dituduh membunuh mentri dan prajurit

Sedangkan pada waktu yang sekian lama

Sang raja telah dibuat ketakutan

Melihat musuh yang banyak mendekatinya

 

Ada yang terluka di tertawai

Ada yang bahagia di tangisi

 

Kehidupan bukan raja dalam permainan catur

Yang digerakkan oleh mentri dan prajurit

Jogja-Madura, 1437 H/ 2016

 

KE SAWAH

Seami-istri ke sawah

Mencari rumput

Untuk makan sapi

Suami lebih awal berangkat

kemudian istri menyusul setelah memasak

 

Anak-anak berangkat ke sokolah

Setelah pulang dia bahagia

Melihat sepeda baru di depan rumah

Kemudian dia bertanya:

“Dari manakah sepeda ini didapat”

            “Ataukah sapi gemuk itu telah di jual dan diganti baru dengan yang kurus lagi”

Ke sawah tak ada pilihan

Ke sawah adalah tuntutan

Jogja-Madura, 1437 H/ 2016

Rudi Santoso, lahir 30 November 1993 di Sumenep Madura. Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Salah satu pendiri komunitas Seni dan Sastra Blangkon Art Jogja. Buku antologi puisinya Sajak Kita (2015), Secangkir Kopi (2014), dan Surat untuk Kawanan Berdasi (2016), antologi cerpen muda Indonesia (Gema Media 2015), dan beberapa puisinya telah terbit diberbagai media cetak lokal dan nasional.

 

Alamat                       : Jln. Nogopuro. No 4. Gowok. Catur Tunggal Depok. Sleman. Yogyakarta.
No Rekening BRI     : 6544-01-003785-53-2, A/n Rudi Santoso

LAMPUNGMEDIAONLINE.COM adalah portal berita online dengan ragam berita terkini, lugas, dan mencerdaskan.

KONTAK

Alamat Redaksi : Jl.Batin Putra No.09-Tanjung Agung-Katibung-Lampung Selatan
Telp / Hp: 0721370156 / 081379029052
E-mail : redaksi.lampungmedia@gmail.com

Statistik

Copyright © 2017 LampungMediaOnline.Com. All right reserved.

To Top