Sastra

Puisi Karya Daffa Randai


Sayembara Memenangkan Hati Drupadi

/1/

sayembara itu, kekasih.

kudengar melalui mulut-mulut angin

yang berlintasan di bukit, sungai, lembah, dan gunung

juga dari kepak sayap daun-daun musim gugur.

dan mereka; itu brahmana Ekacakra, itu pangeran putra raja,

ke Panchala ─ sama berhasrat untuk memperebutkan kau.

 /2/

hei kau, putri mahkota raja Drupada.

sembah kasihku untukmu; titah segala kagum, izinkan kau

untuk kutuju ─ biar kutahu lentik mata pun cantik parasmu,

biar pesta kian meriah dan dinding dada puas berdebar.

kau yang menyelinap di tiap denyut nadiku

sedemikian inikah kau buatku luluh?

/3/

di luar adaku, itu pangeran dari segala penjuru:

usai kukutuk ─ tiada selain, itu Salya, Jarasanda,

Duryudana, Karna, pun Sisupala, ia sama tak kupersila.

dan yang lain, sedang kunanti kabar pupusnya;

yang kemudian sayembara juga hatimu itu,

biar aku yang memenangkannya.

/4/

angin berembus, dan tangan-tangannya

yang halus mengelus rambut, pipi, juga punggungmu.

oh, maha cemburu aku, kekasih ─ betapa sengit persaingan ini

semata demi memperebutkan kau, yang maha cantik.

betapa hasrat mengunggun, betapa harap bertalun;

oh ya,  menangkan aku, kekasih. menangkanlah, biar hatimu

yang lapang tak sia-sia kuperjuangkan.

/5/

pegang erat jubahku, kekasih.

kita musti undur diri dari keriuhan musim; cuaca atas

perseteruan dan ketidakterimaan itu pangeran.

sebab ketidaksanggupanku menyaksi kau membakar diri

terlampau bertalun. kau musti turut, nanti ke bukit nanti ke lembah

nanti ke sungai nanti ke rumah: ibu pereka kendi tinggal.

kita kisahkan padanya, ini bahagia yang tak tertakarkan.

 /6/

biar ayahmu kujumpai, biar restunya kudapati.

mauku kau takkan terbagi; itu dengan Nakula, Sadewa,

Bima, pun Yudhistira ─ pantangku membagi kau padanya.

oh, putri yang berparas bunga-bunga, perkenankanlah

biar kau termiliki hanya olehku seorang saja;

tanpa bantuan siapa-siapa, tanpa kurang apa-apa.

2018

Perihal Sebuah Pertanyaan II

siapa yang dapat dengan sadar mengelak dari kenangan

selagi ia bersarang di palung terdalam ingatan?

demikian kau tanya, di jumpa pertama

seusai upacara perceraian kita dimulai.

aku tercenung seorang diri ─

berlindung dari kilat matamu yang sinis.

selagi masih kususun kata, kau kembali berpanah tanya:

apakah makna dari sebuah kebisuan, kecuali bukan

semata demi menjaga seorang diri yang merasa terancam?

 

upacara masih berlangsung di dada langit yang mendung.

sepanjang itu, aku masih duduk membatu ─

dihujati prasangka, berhujan rasa gelisah.

adakah seorang saja yang dapat dengan mudah

memutar jarum ingatan?

sementara kita adalah kisah, catatan dari luar sejarah ─

kehidupan lain di luar dunia, dunia lain di luar kata.

adakah seorang saja yang dapat dengan mudah

menjangkau Tuhan, sementara Tuhan sudah bertahun

menjelma kenangan di tubuh kita?

2018


Perihal Sebuah Pertanyaan I

            ─ untuk Sapardi Djoko Damono

 /1/

apakah tentangmu bisa begitu saja meninggalkan tubuhku?

sementara kemarin sempat kularungkan pesan ─

tuhan tak menyertaiku nyawa.

sedang sebagai ganti, ia melahirkan engkau.

maka kau hidup dalam tubuhku; berlaku ibarat nyawa,

sedang aku di luar adamu, menjelma sewujud raga.

kita setakdir ─ untuk saling menggumuli,

saling berpilin-kelindan dalam desir dan denyutan.

/2/

aku berhasrat, suatu masa kita dapat saling pandang ─

aku bercermin pada matamu, kau menjelma bayang tubuhku.

aku tersenyum di matamu, tampak bibirmu dalam senyumku.

kau yang hidup dalam tubuhku ─

bagaimana sepasang mata dapat menghapal warna-warna,

sementara mata lahir tak dibekali ingatan?

/3/

kita tinggal dalam ruang tak bersekat,

dan akan tanggal hanya jika di tangan malaikat.

kau terulur di tiap rentang jalan, aku terpijak di jejak kenangan.

kau yang tinggal dalam tubuhku ─

bagaimana sepasang telinga dapat mengenali suara,

sementara suara lahir tak berbekal nama?

/4/

apakah sebenarnya makna percintaan

jika bukan semata demi pecinta itu sendiri?

sementara dalam tubuhku, kau belajar berkata-kata,

menyelia susun sajak ─ kata di luar dirimu sama sekali tak pernah ada.

kemudian kita saling menggumam, meragum berpuluh dugaan.

kau yang tinggal dalam tubuhku ─ apakah kita sama tiada berhasrat

sekadar untuk hidup di dalam kenangan?

2018


 Selepas Kau Kawin

adakah yang sejak bertahun masih senantiasa kita gumuli

selain perihal dendam dan luka hati, kekasih?

terlebih di selepas Juni, kala kau bergaun pengantin,

disanggul dan turut disanding.

dara janur yang lengkung, pun derit dadaku yang lengking ─

turut menyaksi hari bungahmu yang tahir.

sementara mata berkaca luka, di helai mata pandangku tanggal.

“oh ya, aku resmi mendendamimu, kekasih!

terlebih selepas kau kawin.”

sedang di jumpa terakhir ─ harapku kau haram menangis.

2018


 Kelopak Puisi

kau, kelopak bulan; sepasang mata

yang memata-matai matahari juga mataku.

mata lentik bagi bunga dan rintik daun-daun;

saksi bagi sesisa luka dan janji temu

di lusa kita yang lusuh.

kau, kelopak malam; sepasang sunyi

yang tak hampir-menghampiri;

sepasang duri yang berhasrat untuk saling melukai.

kelopak puisi; seujung luka bagi aku

diri seorang penyair.

2018


 TENTANG PENULIS

 

 Daffa Randai, lahir di Srimulyo, Madang Suku II, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan pada 22 November 1996. Alumnus siswa SMA Negeri 1 Belitang dan detik ini sedang menempuh pendidikan tinggi di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tercatat sebagai siswa di Sekolah Jurnalistik SK Trimurti 2017 yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta.

            Salah seorang inisiator terbentuknya Komunitas Pura-Pura Penyair dan pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pendapa Tamansiswa (2017). Puisi-puisinya tergabung dalam antologi bersama seperti, Tasbih-Tasbih Rindu (Wahid Media, 2017) dan Tematik Rindu (Sudut Sastra, 2017). Karya-karyanya yang lain dapat dijumpai di media daring seperti: jejakpublisher.com, kibul.in, lpmpendapa.com, tembi.net, sukusastra.com, tulis.me darahmimpi.com, binisbelta.id, medium.com, penakota.id, inspirasi.co, sastraindonesia.org, dan lain-lain. E-mail: randaidaffa22@gmail.com, Instagram: randaidaffa96, Facebook: Daffa Randai, Twitter: @randai_daffa, No. HP/ WA: 0822-8245-2892, Blog: www.randaidaffa.wordpress.com

LAMPUNGMEDIAONLINE.COM adalah portal berita online dengan ragam berita terkini, lugas, dan mencerdaskan.

KONTAK

Alamat Redaksi : Jl.Batin Putra No.09-Tanjung Agung-Katibung-Lampung Selatan
Telp / Hp: 0721370156 / 081379029052
E-mail : redaksi.lampungmedia@gmail.com

Statistik

Copyright © 2017 LampungMediaOnline.Com. All right reserved.

To Top