Sastra

CAFÉ LOVE CHOCO DAN LAKI-LAKI YANG PERGI


Kebahagiaan adalah bahagia itu sendiri, barangkali ia pemilik makna tunggal yang sulit untuk diartikan. Mungkin bahagia adalah sebuah rasa dan rasa sendiri merupakan medium untuk merasakan bahagia. Lantas mana yang lebih tepat untuk mengemas rasa bahagia ? kebahagiaankah ? perasaankah ? atau bukan keduanya. Di sudut ruang kafe, sebuah meja memaksa untuk menyendiri. Di sana ia menghabiskan waktu menatap pintu yang beku itu.

Jendela-jendela mengembun. Meja-meja kedinginan. Di pintu depan, sebuah plang bertulis buka masih belum juga bekerja. Hari semakin panjang. Jarum menunjuk angka sembilan dan ia tampak sabar menunggu pelanggan datang.

Café love choco. Sebuah cinta di balik seduhan. Di dalamnya, gambar hati menghias dinding-dinding sunyi. Lampu-lampu rawit menyala di antara sudut ruang serta sebuah musik romance yang memanggil kenangan yang menyesaki pikiran. Kafe itu terletak di perempat jalan. Di sudut kota yang riuh bising mesin-mesin jalanan.

Desember, di musim penghujan, orang-orang berjalan di bawah perlindungan mereka. Pada doa yang selalu meminta gersang dalam derasnya hujan. Melihat hujan seperti sebuah ketidakberuntungan tanpa sempat melihat pelangi yang menghias di langit-langit suram. Matahari tak terlihat datang. Burung-burung berimigran, sungai-sungai meluap ke permukaan serta memenuhi badan jalan dan pengendara motor itu menepi di pinggir jalan, di depan Café love choco. Ya, lelaki bersweater hitam terlihat begitu resah ketika motor tua yang dikendarainya mati seketika. Padahal tampak luar terlihat baik-baik saja, malah seperti motor baru juga. Warna cat merah pada tubuhnya masih sangat terjaga. Mungkin genangan membuatnya risau, motor juga punya kehendak atas tubuhnya. Terbiasa berjalan di atas panasnya aspal bukan berenang melintasi genangan.

Hujan masih benar-benar deras. Tubuh laki-laki berkulit sweater hitam itu kuyup dan motorpun ditinggalkan hingga ia benar-benar kembali berkawan. Laki-laki itu kembali gelisah, kali ini matanya berpencar mencari-cari pandang. Giginya mengetuk-ngetuk kedinginan.  Tubuhnya meraih pelukan bayang dan dilihatnya sebuah kafe di balik badan.

 

(bel di balik pintu berbunyi)

Bel yang menggantung di atas pintu memecahkan tidur perempuan yang terlelap sekejap ketika musik membawanya pergi ke alam mimpi. Perempuan itu terbangun, melihat laki-laki kuyup yang membasahi lantai ruangan. Ia tak marah, tak sedikitpun terlihat seperti itu sedang laki-laki itu tampak malu-malu berdiri di pintu. Perempuan itu terlihat bahagia dan pergi mengambil sesuatu yang kering untuknya.

“ ini ! handuk dan selimut tebal Tuan “

“ terima kasih ! “

            Hujan masih benar-benar deras di luar. Laki-laki itu berdiri menatap motornya sendiri. Di balik jendela ia kembali gelisah. Barangkali sesuatu tertinggal di sana.

Bagi sebagian orang, hujan adalah media terindah untuk menyampaikan pesan. Seperti menangis di bawah derai rintik dan tertawa di balik bisingnya. Menarik ulur ingatan atau sekadar mengukir peristiwa bersama orang yang disayang. Hujan memang selalu menyimpan kenangan bagi setiap orang. Orang-orang selalu menyimpan kenangan di saat hujan dan kenangan sendiri. ia tak begitu memaksa untuk diingat bagi sebagian orang. Terkadang tak semua kenangan harus disimpan. Merelakan justru adalah hal paling baik daripada menyimpan pahit.

Mungkin laki-laki itu kini sedang menarik ulur ingatannya. Tentang dirinya, hujan dan motor tua berwarna merah di luar sana. Seseorang telah membuatnya terkurung dalam rintik kenangan pahit.

Ia teringat tentang kekasihnya yang telah lama hilang. Setelah hal yang serupa terjadi dahulu. Ia dan perempuan itu berpergian jauh dengan motor merahnya, menuju rumah yang ia janjikan. Tetapi hujan menghadang di tengah perjalanan. Sialnya, tak ada mantel untuk mereka pakai menerpa hujan. Cuaca tampak baik-baik saja pagi itu, tetapi sore hari hujan datang beramai-ramai menghadang.

Jalanan benar-benar basah saat itu, hujan begitu andil dalam pekerjaannya. Jalanan sangat lenggang, tak ada rumah, kedai atau ruang apapun untuknya berteduh. Hanya ada tebing, pepohonan rindang dan kelokan-kelokan curam yang mengarah ke jurang.

Hujan semakin deras saat itu, pandangannya tak begitu baik melihat jalan, perempuan itu menggigil memeluk tubuhnya. Ia sadar, harusnya ia tidak memaksa kehendak tuk segera sampai.

Di kelokan tajam, motornya tergelincir. Motor itu benar-benar lepas dari kemudi laki-laki itu. mereka meluncur sejauh delapan meter. Laki-laki itu menabrak pohon besar di sisi kiri, giginya rontok dua biji dan luka di tubuhnya sebab tergores aspal jalan. Sementara perempuan itu masih saja terdiam di sana. Di dekat batuan besar tak jauh dari laki-laki itu. Sial ! kepalanya membentur batuan besar, darah mengucur deras di sana. Perempuan itu tetap membeku di dekat batu. Tak ada yang sempat menolong mereka. Cukup lama mereka ada di sana, hingga seseorang datang menolong dan bawanya ke rumah warga. Naas, perempuan itu meninggal dunia sementara ia, laki-laki itu mengumpat habis jalanan licin, hujan, dan batuan yang telah membuat kekasihnya ’pulang’.

Terkadang, sekeras apapun usaha seseorang untuk melupakan masih ada hal yang lebih keras daripada usaha itu sendiri. Mereka memanggilnya keinginan. Walau kenangan sudah dimusnahkan, tetapi keinginan untuk berkeluarga dan tinggal berdua di rumah yang telah di buatnya di atas puncak masih saja terbayang.

“ silahkan duduk Tuan! Akan kuambilkan daftar menunya “

            Suara perempuan di dalam kedai itu memecahkan ingatannya. Ia memilih duduk di dekat jendela, agar ia bisa mengawasi motor tuanya.

“ emmm, Nona ! bolehkah saya meminta coklat hangat saja ?” pinta laki-laki berkemul selimut itu.

“ coklat hangat akan segera dihidangkan !” jawabnya penuh perasaan.

Perempuan pemilik kafe itu terlihat bahagia, setelah seharian hampir tidak ditemukannya pelanggan yang datang. Ia rindu suara bel yang saling riuh bergantian. Itu pertanda pelanggan-pelanggan saling berdatangan. Café love choco, bukan sekadar kafe. Tempat ini adalah rumah bagi tiap kebahagiaannya. Tak ada kesedihan, kekecewaan atau rasa buruk yang lain. Karena Café love choco adalah ruang penuh cinta kasih.

“ silakan Tuan “ perempuan itu tersenyum manis pada satu-satunya pelanggannya itu.

“ terima kasih “

Perempuan itu sedikit resah melihat kegundahan hati yang terlihat di wajah laki-laki itu. Wajahnya mendung, sama seperti langit di luar sana. Ada sesuatu yang berat di pikirannya, dan ia tahu itu. Entahlah, rasanya aneh. Seseorang mana mungkin betah berlama-lama melihat motor tua yang kehujanan. Cuma laki-laki itu seorang.

“ Tuan dari mana ?” tanya perempuan penuh penasaran.

“ saya dari jauh memandang ke belakang, ke perempuan yang aku sayang. “ jawabnya ngelantur.

“ Tuan, ada apa dengan Tuan? “ perempuan itu mengerutkan alisnya.

“ entahlah, motor saya enggan diajak berjalan. Mesinnya mati setelah saya paksa berenang di genangan. “ terangnya.

            Perempuan itu memandang keluar jendela. Melihat motor tua bercat merah yang masih terlihat bagus itu.

Laki-laki itu menjadi perenung paling mahsyur ketika langit masih menjatuhkan hujan. Dia bisa mangacuhkan siapa saja yang berada di dekatnya. Dia mengacuhkan perempuan pemilik kafe yang telah membuatkan secangkir coklat hangat untuknya.

“ minumlah Tuan. Itu secangkir ‘Love Choco’ hangat spesial untuk pelanggan yang datang kehujanan “ perempuan itu memandang laki-laki berkemul itu penuh cinta.

Slluuuurrrrpppp . . . .

“ bagaimana ? enak Tuan ? “

“ kau pandai membuatnya! Rasanya aku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Terimakasih !”

            Merah merona pipi perempuan itu dipuja. Ia telah lama sekali tidak berbincang dengan pelanggan-pelanggan yang berdatangan. Setelah restoran ayam cepat saji di seberang itu datang menghasut semua pelanggannya.

“ kafe ini milikmu puan ? kau tinggal sendiri di sini ?” tanya laki-laki itu sambil menyeruput coklat dalam cangkir.

“ iya aku pemiliknya, yang telah membesarkan semua ini dengan kebahagiaan yang kupunya.“

            Mendengar kata bahagia, laki-laki itu tampak terpanggil kembali dengan pikiran-pikiran yang sekejap datang menghantui.

Ia menjadi laki-laki yang gagal membahagiakan pasangan. Meremukkan mimpi tuk tinggal membangun kehidupan. Laki-laki itu ,menangis di hadapan si empunya kafe.

“ kau kenapa Tuan ? aa. . a . aaapaa ada yang salah dari ucapanku barusan ? Tuan katakan ada apa sebenarnya ? “ perempuan itu terlihat panik melihat laki-laki itu menangis di hadapannya.

“ . . . .”

Laki-laki itu menutup diri. meninggalkan meja dan berlari ke dekat kaca jendela. Ia melihat bayangan tubuhnya berada di luar sana. Bermain hujan bersama seorang anak kecil yang tak pernah ia bayangkan. Seorang anak perempuan, berambut keriting berkulit putih memanggilnya Ayah. Ia namai dia Tak ada. Anak perempuan itu memang tak pernah ada, tetapi ia selalu hadir menghiburnya di kala hatinya sedang gundah gulana.

Di luar, surut-surut air menyurut. Hujan mereda dan orang-orang lekas kembali ke jalan. Melanjutkan perjalanan yang sebelumnya terhambat banjir.

            Laki-laki itu tampak terburu-buru mengemas semua barang yang ia punya. diletakkannya selimut dan handuk basah di kursi-kursi di dekatnya.

“ kau mau kemana Tuan ?” tanya perempuan yang sedikit ragu memanggilnya.

“ . . . . “

“ Tuan !” teriak perempuan itu.

“ meniti waktu tuk pulang ke rumah impian. Di atas puncak kan kujumpai istriku di sana “ jawab laki-laki itu.

“ tapi Tuan ? di luar jalanan masih licin dan coklatmu masih menggenang di dasar cangkir. “

Laki-laki itu segera menghampiri cangkirnya di meja. Di habiskannya coklat itu dalam sekali teguk.

            Perempuan itu sedikit merasa sedih ketika laki-laki itu akan meninggalkannya sendiri lagi. Walau perasaan kebahagiaannya begitu banyak ia miliki tetapi ditinggal ketika merasa senang sungguh membuat hati merasa sedih. Perempuan itu baru berbincang beberapa kalimat padanya. Ia merasa dekat dengan laki-laki itu. Entahlah, biasanya ini jarang terjadi. Perempuan itu tak ingin laki-laki itu pergi.

“ Ini uang untuk handuk, selimut, perbincangan, dan jamuan yang kau beri puan. Bila ada kembalian, simpan saja untukmu. Terima kasih telah menerimaku berkunjung kemari. Aku harus lekas pergi sebelum hujan menghadang kembali. “

“ ttaa. . ta. .ttt. . taaapii Tuan ?” perempuan itu tampak ragu.

“ tenang saja, motorku sudah pasti bisa menyala. Ia tadi hanya sedikit lelah “

“ . . . ”

“ Tuan bolehkah aku meminta nomor ponselmu ? Aku selalu melakukan hal ini kepada tiap-tiap pelangganku “ pintanya.

 

Laki-laki itu memberikan nomor ponselnya dan tanpa sempat memberi tahu namanya. Ia pergi meninggalkan perempuan pemilik kafe itu sendiri. Perempuan itu melambaikan tangan di balik jendela. Sejujurnya, ia tak pernah rela pelanggannya lekas beranjak pergi. Walau di luar hujan berhenti, tetapi jalanan masih licin untuk dilalui.

 

***

 

Hari begitu cerah. Orang-orang terlihat sibuk bekerja. Pagi itu Café love choco masih buka seperti biasa. Pukul sembilan pagi, perempuan itu memasang plang bertulis buka di depan pintu kembali. Ia teringat laki-laki bersweater hitam yang kuyup kemarin malam. Diambilnya ponsel di dalam saku dan menelpon laki-laki itu untuk memastikan dia sudah sampai pada tujuannya semalam.

Panggilan tak terjawab. Tiga kali ia lakukan itu. Tubuhnya berkeringat, walau pendingin ruangan membuat kaca-kaca jendela mengembun. Ia takut sesuatu terjadi padanya. Diambilnya kembali ponsel itu dan mulai memanggilnya.

. . . .

            Ponsel itu terjatuh dari telinganya. Matanya terbelalak. Mulutnya mengaga kecil. Ia menyesali sesuatu di balik air mata yang mulai tak kuat dibendungnya.

Laki-laki itu telah meninggal dunia. Seseorang dibalik ponsel bercerita, ia tergelincir di kelokan tajam menuju puncak setelah ban belakang motornya meletus saat melaju kencang dan laki-laki itu menghantam batuan besar di sepanjang jalan. Kini laki-laki itu masih berada di rumah warga yang tak jauh dari tempat kejadian. Menunggu polisi dan sanak keluarga yang dapat dihubungi. Kata seseorang dibalik ponsel : untung Nona telpon kemari saya bingung ingin menghubungi siapa, dalam ponselnya tak ada nomor seseorang yang tersimpan.

            Perempuan itu lantas menangis tersedu-sedu. Merasa bersalah atas apa yang telah menimpa laki-laki bersweater hitam itu. Harusnya ia lebih keras melarangnya meninggalkan kafe. Setelah ia mengetahui ban roda belakang motor  tua yang kehujanan itu terlihat menggelembung. Perempuan itu ingin mengatakannya tetapi laki-laki itu acuh padanya. Kini perempuan itu kembali dililit sunyi. Bukan pada pelanggan-pelanggan kafe yang jarang ia temui. Tetapi pada diri sendiri yang telah melenyapkan hidup seseorang.

Café love choco tutup pagi itu juga. Dan keesokan harinya perempuan itu tak terlihat lagi di sana. Mungkin kebahagiaan yang ia punya telah hilang, ditelan peristiwa yang datang merebut segala yang ia punya.

Café love choco ruang kebahagiaan yang raib begitu laki-laki bersweater hitam itu meninggalkan ruang.

 

27 Desember 2017

 

IDENTITAS PENULIS

Kevin Alfiarizky, lelaki berkulit sawo matang. Kelahiran 1998 di Jakarta dan tumbuh besar di Surabaya. Seorang mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen telah terhimpun di berbagai antologi bersama, peraih nominasi 15 cerpen pilihan pada Sayembara Sastra Bunga Tunjung Biru di tahun 2017, cerpennya terbit secara daring di Langgampustaka.com. Berdomisili di Surabaya. Email : alfiarizky.kevin@gmail.com. Kontak pribadi : 0896-8735-2804.

 

LAMPUNGMEDIAONLINE.COM adalah portal berita online dengan ragam berita terkini, lugas, dan mencerdaskan.

KONTAK

Alamat Redaksi : Jl.Batin Putra No.09-Tanjung Agung-Katibung-Lampung Selatan
Telp / Hp: 0721370156 / 081379029052
E-mail : redaksi.lampungmedia@gmail.com

Statistik

Copyright © 2017 LampungMediaOnline.Com. All right reserved.

To Top