Sastra

PUISI-PUISI MUHAMMAD HUSEIN HEIKAL


Retorika Rahasia        

: untuk Adimas Immanuel

 

| kepada rahasia

telah kubawa kegelapan

dalam cawan termalam

aroma tubuh filsuf

dan sepotong hologram

mengukir jendela-jendela

selayak dimensi ekstraksi

rerupa saji warna

serupa mematik kata

membawa aku kepada rahasia

rumah untuk berduka

air mata paling murni

sebagai saji.

melindap lampau

ke lorong-lorong paling bisu

perlahan kemarilah

kubawa kau nanti kepada sunyi

kepekatan abadi

rahasia paling terjaga rapi

| perjalanan rahasia

kereta api yang mengangkut pagi

manusia-manusia sepi berpura usil membaca

beberapa mencoba menelan beberapa kata

sepanjang perjalanan letih

paling tatih.

perjalanan masih kereta api menyeret sunyi

digerbong paling akhir

semacam sebuah restoran berjalan

bagi pemesan peti mati

| ruang rahasia

sebab tak akan kau temukan rahasia

sebagai ode ataupun perayaan akhir pekan

lelaki melukis wanita dengan darah

wajah-wajah pesunyi silih berganti

beberapa mereka terlalu setia

membawa kepulangan

dari ritus.

bernama masa lalu

yang paling purba

| pemegang rahasia

maka:akan kujaga!

saja apa yang layak dijaga

berlian dan mantra

ruh dan jiwa

belukar dan makna

bawalah itu ke dalam dingin

diam yang paling kutuk

ketuklah pintuku

pintu paling beluk dan likuk

sebab bila itu telah kujaga

kau tinggal punya asa

tanpa rasa.

2017

Serangkai Usia

            : untuk Ibu, selalu

[i]

aku membawakanmu usia, ibu

tersenyumlah mata kelabu

ku eja setiap tanda

ruang-ruang lampau

langit menyala biru

lalang senantiasa nyanyi masa lalu

[ii]

bunga apa yang ingin kau tanam

hari ini, ibu?

ambrosia paling abadi

atau seperti dulu: lily-lily ungu

tak usah mendawai tangis ibu

biarlah kesah menuai resah

[iii]

tersenyumlah ibu

tersenyumlah bibir pucatmu

biarkan mimpi-mimpi basah

biarlah masa depanku mengelu

asal kerutmu memudar ibu

dan segala purba menjadi baru

[iv]

berlindunglah ibu,

bersembunyilah dari maut

aku tak kan restu

bila sebab itu berlaku

kematian itu perih, ibu

kematian itu perih

kemarilah ibu

aku pesunyi dibakar deru

[v]

akan tetapi, kata terakhir ngiang, ibu:

usia mana yang paling kekal, anakku?

2017

Membayangkan Masa Depan

            : kepada kita, para penatap

seperti apa wujud masa depan

-itu-

kerinduan akan rumah

suasana tanah air

pelukan ibu

           -atau-

sekadar kelelapan

di hari libur

(?)

2017

Muasal Rindu

kuterka-terka utara, jua

sepintas jalan yang kembali

masa lalu kenangan

menjelmakan purba

muasal mana paling rindu

angin berbisik

desah napas berisik

sebab tak bakal aku

sampai menjenguk ingat

sebelum tiba lirik terakhir

sementara utara

masih kuterka-terka

mata yang tak bisa baca

bertahun bertatap luka

pengelanaan dari sini

menuju fana

mengasah asa

mengutuk apa lagi

kau kelana

matahari membara tubuh

menghitam jiwa

sekelat lada

masih juga kau

mendekam diam

palung terdalam

mengeja baca, jua

2017

Khayalan Menjelang Siang

sedari tadi geliat tubuhku membayangkan wajah

sebuah retorika sejarah memenuh kenang dan bayang

aku tahu kau disitu, dibalik monitor kesunyian

menggeser foto-foto, menatapi lirih satu persatu

kau rindu, begitu aku: kita sama-sama merapal batas

berdoa agar waktu melindas gegas

mencari cara bagaimana malam bisa melindap

mengingat-ingat sentuhan dan ciuman terakhir

entah untuk yang keberapa kali rindu lahir ditahun ini

entah berapa doa pula kita tembang dirumah masing-masing

 

 

2017

 

Sebab Waktu Terlalu Laju

sabtu.

sesudah jumat atau sebelum minggu

diantara batas sesudah dan sebelum itulah: aku

mengumpulkan rindu.

mencoba menidurkannya

perlahan dengan nyanyian sihir yang mengalir

rindu tak pernah bisa tidur, aku tahu itu

sebab waktu, akan terus begitu

tak pernah peduli

terus laju meninggalkan masa lalu: aku.

2017

Tembang Dosa

sajak paling usang

penghujung doa

berhentilah mendosa, kau

tubuh wanita menjelma berhala

Tuhan menyirna

nafsu memompa paduan raga, kau

pendosa mendoa lewat sajak

menembang dusta

letih merayap keringat

jelaga membungkus jiwa

kemana lagi lari, kau

kota-kota dibalut beton

dosa-dosa tenggelam

setiap ujung senti

bagi tiap nadi

berhentilah, kau

gugurkan sajak terakhir

dari tembang dosa

paling usang

2017

Kubur Leluhur

 

kuberi ruang kubur

para leluhur

dipusat-pusat kota peradaban

menjadi patung-patung bicara

penarik wisatawan tertawa

sementara anak-anak kita

berkaca-kaca disudut mimpinya

ruang kubur

dipersiapkan sejak kala

para leluhur teramat luhur

merapalkan ayat-ayat murni

patuh memuji Sang Esa

akan dicabutnya nyawa-nyawa

kembali hadap pada-Nya

maka berdoalah

sebelum ruang kubur

menjadi isi leluhur

2017

Untuk Kau

Untuk Perkelahian Diam

Untuk Waktu Hari Ini

bernyanyilah, 24 jam yang lalu

setelah kata terakhir beberapa menit yang liku

hari ini peringatan kemerdekaan bangsa kita

kau upacara, ya setidaknya berkumpul bersama teman

sedang menyendiri aku bermenung beku

sehabis magrib kubaca kitab suci

aku sempat berikrar akan membaca beberapa ayat tiap malam jumat

untuk siapa saja yang berbuat baik kepadaku

musik, foto-foto, membaca chat yang lalu

ah! terkadang bosan hinggap dengan cepatnya

hari keempat aku dikota yang sama denganmu

menatapi benda-benda yang diserak ibu

aku menata kembali sebab bakal ada yang hari ini datang

membawa majalah yang memuat hasil wawancara beberapa waktu lalu

tentang seorang penyair sekaligus pahlawan

ah! terkadang waktu memang terlalu khianat

ini entah untuk yang keberapa, kata rindu ku eja

seperti deretan zikir atau jalan bagi para semut

entahlah, hidup sudah terlalu beku

tumpat segala lubang

menganga segala kenangan

ah, aku tercebur kesitu: kepada, kau!

2017

Tentang Penyair

Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Tengah menyelesaikan studi mayor ekonomi di Universitas Sumatera Utara. Menulis puisi, juga cerpen dan esai untuk Horison, The Jakarta Post, Kompas, Utusan Malaysia, Media Indonesia, Republika, Investor Daily, dll. Karya-karyanya juga termuat dalam antologi Merindu Tunjuk Ajar Melayu (Esai Pilihan Riau Pos, 2015), Perayaan Cinta (Puisi Inggris-Indonesia Poetry Prairie, 2016), Pasie Karam (Temu Penyair Nusantara, 2016), 1550 MDPL (Pesta Penyair Kopi Dunia, 2016), Cinta yang Terus Mengalir (Ta’aruf Penyair Muda Indonesia, 2016), dan Matahari Cinta Samudra Kata (Hari Puisi Indonesia 2016).

LAMPUNGMEDIAONLINE.COM adalah portal berita online dengan ragam berita terkini, lugas, dan mencerdaskan.

KONTAK

Alamat Redaksi : Jl.Batin Putra No.09-Tanjung Agung-Katibung-Lampung Selatan
Telp / Hp: 0721370156 / 081379029052
E-mail : redaksi.lampungmedia@gmail.com

Statistik

Copyright © 2017 LampungMediaOnline.Com. All right reserved.

To Top