Sastra

PUISI PUISI KARYA YULYANI FARIDA

SAJIAN NEGERI TERTINGGAL

Hai!

Mari singgahlah sejenak!

Di Negeri yang kalian sebut tertinggal.

Intiplah!

Tak ada apa apa di sini,

hanya sajian hangatnya secangkir kopi luwak pelepas penat

sisa perjalanan tadi.

 

Hai!

Mari singgahlah sejenak!

Sambutan kabut tebal hangat menyapa

di puncak Bukit Gerdai pada penghujung pagi.

Lihatlah!

Bulir bulir kesiangan itu bergelantung indah di daun kopi tepi tebing.

Dengarlah!

Petani merinai sajak sajak kuning padi di pematang sawah

atau senandung butiran biji lada di halaman.

 

Hai!

Mari singgahlah sejenak!

Rasakan damai di relung jiwa, kala keramahan Mully Mekhanai

yang menyapa.

Nikmatilah!

Aroma seruit nila bakar yang terhidang menggelitik hidung,

aneka  kuliner manjakan lidah.

 

Hai!

Mari singgahlah sejenak!

Jelajahi Gunung Pesagi nan mempesona, dakilah Gunung Seminung nan terjal,

atau arungi Danau Suoh yang penuh tantangan.

Mari!

Nikmatilah setiap jengkal sajian hangat Negeri tertinggal,

Lampung Barat surga di sudut Lampung.

Way Mengaku Lampung Barat, 16 Oktober 2016

Ket :

Bukit Gerdai : Negeri atas awannya Lampung Barat

Mully Mekhanai : Sebutan bujang gadis suku Lampung Barat

Seruit : Sambal khas Lampung Barat

NESTAPA WANITA PARUH BAYA

Perempuan paruh baya di sudut dapur, wajah letih hampir berkeriput

penuh semangat meniup bara kayu setengah kering yang hampir padam.

Asap pekat yang membubung di sela sela geribik menghitam.

 

Tangan yang mulai renta terus mengaduk kuali di atas tungku,

segenggam beras tak kunjung kering sebab air terlalu banyak.

 

Bulir bulir pilu menetes di sudut lipatan matanya mengalir perlahan,

dengan bayang samar pandangi tubuh ringkih yang terbaring lemah

di balai bambu beralas tikar lusuh.

Gadis mungil usia 5 tahun itu, dalam lelap memanggil sang lentera.

“Ayah,,ayah,,adek kangen, peluk adek ayah.”

Direngkuhnya tubuh yang terkulai itu.

Terisak dengan sedikit gumaman,

“Mengapa putriku harus hidup seperti ini tuhan? Adilkah Engkau padaku?

Tangis yang semakin pecah.

Angan berandai, bila sang surya tetap di sini

mungkin langit tak kan pernah mendung.

 

Mencoba beri ketenangan hati, sebuah kecupan lembut di kening berpeluh itu.

Dengan tergegas mengangkat nasi bubur yang tertanak, ingat si manis yang sedari

pagi belum menyentuh nasi.

 

Dalam linang berharap keajaiban meluruhkan segala kesah.

 

Way Mengaku, 22 Oktober 2016

PILUKU

Sedanku menyayat pilu, melepasmu menancap nisan

langkah gontai tak bertuah

senyap mencekam istana mungil.

 

Pecah tangisan si kecil yang tak terjamah

kala lena haru membiru,

celoteh si sulung menyayat pilu ketika tanya kurir pagi.

 

Butiran air mata menepis bisikan

masih ada bunda yg memelukmu.

Way mengaku, 10 Mei 2016

RINDU KELANA

Dalam diam, menerawang

mengemis waktu berputar arah

kala kursi masih bersanding

rasanya baru kemarin

hadirmu di kursi itu,

saat tatapmu kuliti tubuh ini

kuhela nafas yang terbenam

tersipu dalam kebahagiaan.

 

Indah itu telah berlalu

tinggal lah duri terbungkus waktu,

tak mampu kukatakan

betapa pilu bila isakan

kala maut membentang jarak.

 

Suatu hal yang ingin kupahami

“ berwujud apa kau di sampingku? “

 

Way mengaku, 06 April 2016

MENGENANG LUKA 94

Bukan membuka luka lama

hanya membayang keras

membekas di ingatan

akan tragedi alam di ujung Sumatera.

 

Dini hari bulan Ramadhan

gemuruh berdengung di kejauhan

bumi berguncang hebat

meluluh lantakkan segala isinya

memporak porandakan seluruh tatanan alam.

 

Air mata kepedihan hiasi,

ratapan kepiluan dan kegetiran

suasana mencekam sepanjang malam.

 

Kini hanya menyisakan trauma tragedi silam.

 

Way mengaku, 02 juni 2016

NOSTALGIA

Bulir-bulir haru mengalir melintasi pipi,

mengendap di secarik sapu tangan

yang kau tinggalkan.

 

Dan hari jadi ini,

saat usia kian menanjak

kembali nostalgia menyapa,

saat kau selai batang-batang lilin

di keremangan itu.

 

Saat itu, kini bersemayam

hanya dalam angan.

 

Tetapi, kini aku yang

hadir untukmu

dan bunga-bunga di pusara memohon restu

untuk aku terus melangkah bersama dua amanah

yang tersisa.

Way mengaku, 19 juni 2016

TITIP RINDU PADA SEKEPING NISAN

Pandangi lekat- lekat sudut mata mungil itu,

ada sebutir rindu terburai di sana,

bibir mungil tebar senyum kelu

tepis luka rindu kian menganga.

 

Tubuh nan ringkih melerai luka kalbu,

menahan rindu kian membatu.

Jiwa mungilnya berbisik,

adakah sama yang terasa?

rindu ayah, rindu separuh jiwa,

rindu sang lentera.

 

Pada bulir air mata, ku titip rindu melalui doa.

Pada untaian bunga, ku sampaikan kesah sedih mendera.

Pada sekeping nisan, ku titip rindu dan salam sayang

tuk ayah di surga.

Way Mengaku, 02 Juli 2016

KEMBALI PULANG

Bergetar bibir dalam gigil,

tak mampu berkata meski hanya berbisik lirih.

 

Gumpalan sesal, penuhi rongga

dada, kalimat ampunan merintih.

 

Begitu perih tiada tara,

detik-detik kepergian sukma

meniti jalan kembali pada Illahi Robbi.

Way Mengaku,  11 Oktober 2016

SENYUM LUFFY

Ceriamu menghilang di pagi yang cerah ini,

takkah terlihat mentari begitu anggun di ufuk timur,

kekicau kenari di ranting pepohon.

Maafkan ego yang menelan senyum

sedikit leyapkan masa kekanakmu.

Getir yang tak seharusnya ikut kau selam.

 

Luffy- Tersenyumlah!

Meski perpisahan ini menyita masamu,

teruslah melangkah, jejak ayah mengiringimu di kejauhan.

 

Luffy-

Mencoba bertahanpun ayah tak mampu,

kelak kau kan mengerti.

Tetaplah ceria meski lelaki ini tak di sampingmu.

 

Luffy- Tersenyumlah!

Selalu hiasi bibir mungil dengan celoteh,

bahagia ayah yang hanya bisa memandangmu dari jauh.

Teruslah bertahan putraku,

ayah selalu menjagamu.

Way Mengaku, 28 oktober 2016

WAJAH IBU

Ibu,

peluh aliri tubuhmu

tak dapat ku kuhitung

tetes mengalir di sudut matamu

tersirat gurat lelah sembunyi

senyum hias wajahmu.

 

ibu,

dentang waktu paksamu

tuk sembunyikan goresan luka

yang tertanam di relung jiwamu

bulir air mata kau lerai dengan cinta

demi senyum anakmu.

 

Ibu,

sesalku membuatmu terluka

naluriku ingin kan peluk dan ciummu

ingin ungkapkan maaf atas sesal

dan sentuh kakimu

namun malu dan egoku

kalahkan maaf yang tercekat

 

Ibu,

untaian doa

akan segala kebaikan dan kebahagiaanmu.

love you mom.

way mengaku, 14 Juni 2016

INGKAR

Janji begitu manis

terpatri di ujung lidahmu,

membelai lembut sang empunya paras,

terbenam dalam bual asmara.

 

Namun sekejap lupa,

bahkan kini tiada rupamu di ujung mata.

 

Celotehmu pun tak terdengar

di belakang telinga

hanya nyanyian burung

bergema tak tentu nyata.

 

Lelaki tak seharusnya begitu,

sebab wanita bukan janda tak berlaki

yang bisa dipermainkan bak boneka.

Way Mengaku, 29 Juni 2016

EKSPEDISI

Mengawal hujan,

jelajahi celah rimba, terjal pendakian di antara batu-batu cadas.

 

Roda bergulat di rintang tajam bebatu

Kuda besi nyaris tumbang semangat, dalam pekat.

Sejenak terhenti ekspedisi.

 

Terdiam, menunda lelah di gubuk,

dingin memeluk sunyi, senandung jangkrik malam menyapa.

 

Seketika raut cemas terlintas,

ketika sepasang senyum yang kutinggal di peraduan.

 

Bulir berlinang, tercampak menjelma biji hujan.

 

Aku ingin pulang.

 

Sedikit lupakan bahagia yang kujemput,

tetapi ada bahagia yang kutunda.

Way Mengaku, 07 oktober 2016

Tentang Penulis:

Yulyani Farida, lahir dan besar di Lambar, ia menekuni puisi di Sekolah menulis Komsas Simalaba. Komsas Simalaba adalah sebuah wadah berkesenian para pemuda di Kabupaten Lampung Barat yang sehari harinya berprofesi sebagai petani kopi. Terbentuknya Komunitas ini sekaligus menandai bangkaitnya sastra kaum petani yang cukup produktife menghasilkan karya. Yulyani F, Sejumlah karyanya telah dipublikasikan di media www.wartalambar.com dan saibumi.com juga tergabung dalam buku antologi EMBUN PAGI LERENG PESAGI (akan terbit awal 2017)

Dari redaksi:

Bagi anggota Komunitas Sastra Silaturahmi Masyarakat Lampung Barat, kirimkan naskah puisinya ke alamat e-mail: riduanhamsyah@gmail.com

 

Berita Terpopuler

LAMPUNGMEDIAONLINE.COM adalah portal berita online dengan ragam berita terkini, lugas, dan mencerdaskan.

KONTAK

Alamat Redaksi : Jl.Batin Putra No.09-Tanjung Agung-Katibung-Lampung Selatan
Telp / Hp: 0721370156 / 081379029052
E-mail : redaksi.lampungmedia@gmail.com

Statistik

Copyright © 2017 LampungMediaOnline.Com. All right reserved.

To Top